Kau tahu apa hubunganmu dengan bawang?

Jika setiap lapisan bawang terus dikupas

Lapisan lain akan terlihat

Begitu juga dengan cerita yang kau buat

Semakin aku membaliknya

Halaman lain dari kebenaran itu akan terungkap

?????___________

Setiap minggunya, di kelas Aisyah selalu diadakan kuis seputar pelajaran yang sudah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Hal itu dilakukan agar rasa disiplin dan semangat belajar siswa terus terpompa, sekaligus untuk membangun kemandirian pada kehidupan setiap siswanya. Setiap siswa tidak diberitahu akan diadakan kuis pada pertemuan selanjutnya alias mendadak. Hal itu hanya timbul dari kesadaran para siswa masing-masing, karena pada pertemuan pertama disetiap semesternya para guru mengingatkan para siswa akan sistem pembelajaran ini.

Untung saja Aisyah mengulangi pelajarannya tadi malam, sehingga kuis itu dapat ia jalani dengan baik. Ya, hal itu tidak luput dari pertolongan Allah padanya untuk mencerahkan pemikirannya saat pelajaran dimulai. Allah selalu membantu hambaNya, terutama dalam jalan yang begitu diridhaiNya.

Ya, bagi pelajar tentulah dianjurkan menuntut ilmu dengan niat karena Allah, menuntut ilmu merupakan sebuah bagian dari jihad yang siapapun dapat melakukannya. Niscaya dengan niat yang benar, Allah selalu senantiasa membantu mencerahkan serta mempermudah segala urusan mulia hambaNya.

Aisyah ingat betul dengan kata-kata seorang ulama bahwa menuntut ilmu itu lebih utama daripada jihad di jalan Allah dengan sebilah pedang. Jadi menuntut ilmu adalah bagian dari jihadnya pelajar.

Namun, entah kenapa selalu ada saja orang-orang yang rela berbuat curang demi mendapatkan nilai yang bagus. Padahal kita bersekolah itu bukan untuk mendapatkan nilai yang bagus, melainkan agar kita paham dengan apa yang kita pelajari, bukannya mendapat nilai yang bagus tetapi tidak memahaminya.

Nah, itu patut kita pertimbangkan. Masa dia dapat nilai yang bagus tapi tidak memahaminya. Untuk itulah dibangunnya sebuah sekolah, untuk menanamkan sifat yang mulia pada para siswanya.

Di kelasnya, Aisyah melihat salah satu teman sekelasnya tengah meminta jawaban kepada temannya yang lain, dan kelihatannya dia malah memaksa temannya itu. Namun, Allah berkehendak lain. Kertas contekan itu meleset dari tangannya sehingga jatuh. Guru yang sedang mengawasi kuis itu, melihat kertas tersebut dan menanyakan siapa siswa yang telah melakukan tindakan pelanggaran di kelasnya itu.

“Kertas itu punya Bagas, Bu. Masa dia paksa saya kasih contekan sama dia,” ucap anak yang ingin menyontek tadi, panggil saja namanya Dev. Mendengar penuturan anak itu, mata Aisyah langsung melotot. Dev malah memutar balikkan fakta, kasihan Bagas yang jadi korbannya. Tanpa sepengetahuan para guru, Dev memang sangat suka mengintimidasi Bagas. Siswa yang mengetahui hal itu tidak melaporkannya pada guru, karena takut akan menjadi korban pem-bully-an Dev yang berikutnya.

Bagas yang dituduh itu langsung kaget. Ia tidak bisa melakukan pembelaan pada dirinya, karena jika ada Dev mentalnya menjadi lemah. Ibu guru itu pun menyuruh Bagas untuk keluar dan segera pergi ke ruang majelis guru. Dia akan diberikan bimbingan di sana.

Sebenarnya Aisyah ingin membela Bagas pada saat itu juga, tetapi ia harus menyusun taktik untuk membuat Dev mengakui kesalahan yang dia perbuat tanpa mengotori tangannya. Dev itu tergolong mudah untuk menyelewengkan fakta dan malah mengandalkan Mamanya yang dicap sebagai Nyonya terelit dan sangat mempercayai anaknya yang tukang bohong itu.

Diam-diam saat jam istirahat, Aisyah pergi ke ruang majelis guru untuk menjelaskan kebenarannya pada guru itu, Bintang juga ikut dengannya. Aisyah akan sangat terbantu dengan adanya Bintang karena Bintang termasuk gadis yang pantang menyerah sebelum urusan selesai, dia sangatlah cerewet.

“Assalamualaikum, permisi, Bu,” ucap Aisyah memasuki ruang tersebut. Benar saja, Bagas saat itu sedang diinterogasi oleh guru itu. Ow ow ow, Dev juga ada di sana. Sepertinya ia sangat ingin melihat Bagas di beri pelajaran dan memastikannya agar tidak buka mulut kepada guru.

“Ya, ada apa Aisyah?” tanya guru itu.

“Maaf, Bu. Saya sama Bintang jadi ganggu Ibu. Tapi ini mengenai harga diri seseorang...” Aisyah menjeda ucapannya, ia melirik Dedi dengan tatapan yang menyudutkan. Kemudian, ia melanjutkan ucapannya lagi, “Jadi begini, Bu. Kejadian dalam kuis yang tadi itu ada sedikit penyimpangan yang menggelikan. Apa Ibu langsung percaya bahwa Bagas yang melakukan hal itu? Lebih baik kita gali dulu kebenarannya, Bu.”

“Lo tahu apa, jangan sok bijak lo,” ujar Dev. Aisyah tahu saat ini dia pasti sangat gugup, tapi dia bisa mengontrol mimik wajahnya agar terlihat tenang.

“Ahaha, bicaranya sopan dikit, dong,” ucap Bintang. Kelihatannya Aisyah mulai merasa gatal untuk menuntaskan kasus ini.

“Kalo lo enggak salah santai aja kali, Dev,” Aisyah kembali beralih pada Ibu guru, “Bu, saya tadi melihat dengan baik bagaimana transaksi itu terjadi. Faktanya, Dev yang sebenarnya minta contekan sama Bagas, bahkan dengan paksaan. Sebelumnya, saya jelaskan dulu apa yang terjadi pada Bagas di hari sebelumnya. Sebelum kejadian ini, Bagas udah sering di-bully sama Dev dan hampir semua siswa tahu itu. Tanggal 27 sampai 30 Februari, 10 sampai 12 Maret, dan 02 sampai 05 April Bagas enggak masuk sekolah bukan karena demam melainkan menyembunyikan rasa sakit di kakinya akibat cambukan dari Dev di belakang sekolah. Oleh karena itu, sewaktu pertandingan sepak bola Bagas enggak jadi ikut tanding.”

“Hei, jangan asal fitnah lo.” Seketika amarah Dev membuncah, untung saja Bintang ada di sana dan dia bisa menghalangi Dev yang tidak tahan ingin menggebuki Aisyah.

“Sst.” Aisyah menyuruh Dev untuk diam selagi ia bicara.

“Kenapa enggak ada satu siswa pun yang berani melaporkan masalah ini? Alasannya karena Dev tidak akan tinggal diam, siswa yang melapor pasti jadi korban berikutnya.”

“Buktinya apa, hah?” bentak Dedi.

“Ow, woles, Bro,” ucap Bintang.

“Bagas, angkat celana lo. Gue tahu bekasnya masih ada di betis lo,” pinta Aisyah.

Bagas tampak ketakutan, ia dapat melihat Dedi yang begitu marah dan akan menghabisinya jika mendukung Aisyah. Bintang tahu maksud dari ketakutan Bagas, langsung menutup pandangan Bagas dari Dedi. Bintang memberi kode pada Bagas untuk memberitahu kebenarannya. “Tenang aja, lo enggak usah takut. Lo enggak bakal di-bully lagi sama dia, ada banyak orang yang dukung lo di sini,” ucapnya.

Pelan-pelan Bagas menaikkan celananya hingga lutut. Apa yang dikatakan Aisyah memang benar, ada banyak bekas cambukan di betisnya. Dev memang orang yang sangat kejam dan tidak memiliki rasa simpati sedikitpun kepada siapa saja, lihatlah betapa parahnya bekas cambukan yang ia lakukan.

“Mengenai contekan itu juga, lebih baik lo ngaku aja, Dev. Daripada nanti dihukum lebih berat. Lo enggak bisa bohong, gue punya banyak informan di sekolah ini.”

“Cih, oke, yang nge-bully Bagas emang gue, tapi contekan itu bukan gue.” Dev tetap tidak mau mengakui kesalahannya.

“Ckckckck, cerita aja. Sebelum kepala sekolah dan wakil kesiswaan ikut andil dalam masalah ini,” ucap Bintang, dia mulai kesal dengan sikap Dev yang tidak mau mengalah dan keras kepala itu.

“Pokoknya bukan gue pelakunya. Mana mungkin gue enggak dapet jawabannya. Soal nomor 6 sampai 10 mah mudah banget buat gue. Huh.” Dev yang mulai naik pitam tidak peduli lagi dengan perkataannya yang ceroboh itu.

“Hohoho,” gumam Bintang melirik Aisyah. Kelihatannya strategi mereka untuk membuat Dev memperlihatkan celah kebenaran tanpa ia sadari karena amarahnya berjalan sukses. Aisyah meletakkan mushaf Al-Quran miliknya yang selalu dibawanya itu di meja di dekat Dev.

“Lo tahu darimana kalo contekannya dari nomor 6 sampai 10? Sedangkan Bagas aja yang lo bilang minta contekan sama lo enggak tahu sama sekali,” ujar Bintang.

“Uh, itu..karena gue udah lihat kertasnya.”

“Tapi, ‘kan kertasnya jatuh di dekat Bagas, belum sampe ke lo. Kalo udah sampe ke lo pasti udah ada jawabannya, sedangkan kertas itu masih kosong melompong belum ada jawaban sedikitpun,” jelas Aisyah.

“Sekarang ngaku aja, sebelum gue bikin lo besumpah di depan Al-Quran ini. Sumpah atas nama Allah itu enggak boleh disepelein, tahu ‘kan apa ganjarannya?” ucap Bintang sedikit mengancam.

Dev tetap diam, tidak berucap sedikitpun. Tangannya juga sudah mengepal, tapi dia tidak akan berani menghajar Aisyah di sana karena ia bisa di keluarkan dari sekolah saat itu juga. Mau tidak mau, Aisyah menjelaskan tentang beratnya sumpah atas nama Allah.

Sebenarnya sumpah atas nama Allah itu tidak boleh dengan enteng di pergunakan, tetapi karena kelakuan Dev yang dapat merugikan Bagas itu tidak bisa dibiarkan lagi. Sebenarnya Aisyah tidak akan melakukan sumpah itu, ia hanya ingin menggertak Dedi untuk mengakui kesalahannya.

Berkaitan dengan adanya sumpah atas nama Allah, sebuah hadits mengatakan bahwa di antara 3 orang yang Allah tidak mengajak mereka berbicara pada hari kiamat ialah, dia yang tidak menyucikan mereka dan bagi mereka azab yang pedih (adalah) lelaki yang menjadikan Allah sebagai barang jualannya, dia yang tidak membeli kecuali dengan sumpahnya (bersumpah dengan nama Allah) dan tidak menjual kecuali dengan sumpahnya (yakni terlalu sering dan memperbanyak bersumpah dengan nama Allah.

 “Apa masih kurang penjelasannya? Perlu diperdalam lagi?” tanya Aisyah.

“Dev, katakan saja yang sebenarnya. Jika kepala sekolah tahu semua ini, masalahnya akan semakin rumit, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah. Kamu tahu ‘kan kepala sekolah itu orangnya sangat tegas. Katakanlah, Nak,” ucap Ibu guru dengan lembut. Menurut pengalamannya, jika seorang siswa semakin disudutkan, akan semakin susah untuk mengakui kesalahannya.

Dev tidak bisa mengelak lagi, dan ia akhirnya mengakui kesalahannya. Atas kasusnya yang membuat Bagas menjadi korban yang sangat dirugikan, Dev diskors dalam waktu sebulan, dalam waktu yang lumayan lama itu ia diberikan kesempatan untuk mengubah sifatnya. Tetapi, jika dia belum juga jera dengan perbuatannya dan melakukan kenakalannya lagi, mau tidak mau ia harus dikeluarkan dari sekolah tanpa persetujuan dari pihak orang tua siswa.

Ibu guru dan Bagas berterima kasih pada Aisyah dan Bintang karena telah membantu menyelesaikan kasus itu. Namun, tugas mereka belum selesai. Aisyah harus meluruskan prasangka siswa lainnya pada Bagas mengenai hal itu.

“Lo itu ya nyebelin banget,” ucap Dev setelah mereka berempat keluar dari kantor majelis guru.

“Emang bener, kan? Seantero sekolah juga udah pada tahu kali. Kudet amat dah ni bocah.”

“Ish.”

“Lo yakin mau mukulin gue di depan kantor guru? Gak bakal nyesel, nih?” ucap Aisyah sok belagak. Dev yang menyadari kebenaran perkataan Aisyah langsung mengurung niatnya dan memilih pergi jauh dari masalah.

“Alhamdulillah, kasusnya selesai dengan baik,” ujar Aisyah pada Bintang.

“Betul banget, untung gue bisa nahan emosi tadi waktu di dekat Dev. Gue bener-bener greget banget ngelihat dia sok enggak punya salah apa-apa itu,” ucap Bintang.

“Emangnya lo berani?” goda Aisyah. Godaannya itu di sambut dengan cengiran Bintang.

“Tapi, serius, deh. Tadi gue agak gugup juga. Selama gue bicara tadi enggak ada yang salah, ‘kan?” tanya Aisyah. Bintang mengacungkan kedua jempolnya mengatakan bahwa Aisyah melakukannya dengan benar.

“Lo hebat juga,” gue sempat khawatir pas lo mau dipukulin Dev. Habib membuat keduanya kaget. Kenapa tidak? Habib muncul secara tiba-tiba seperti sebuah penampakan di samping pintu masuk ruang majelis guru. Untung saja kedua gadis itu tidak mengeluarkan jurus jitu mereka. Haha..

“Kesepakatan kita mana? Gue udah nunggu lo, tapi enggak muncul juga. Eh, tahu-tahunya stay di sini. Gara-gara lo gue enggak jadi ngisi tangki, nih,” ucap Habib menunjuk perutnya yang kelaparan itu. Lo juga pasti belum makan karena harus ngebelain Bagas.

“Gue ‘kan enggak janji. Mmm, ya udah, deh. Sebagai bentuk permintaan maaf gue, entar malem lo dateng aja ke rumah, kita makan malem di rumah gue. Ajak Mama lo, ya, sekalian silaturahmi. Lo juga Bintang, jangan lupa dateng, ajak abang Bulan, ya,” ucap Aisyah.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 1 0 0 0
 
Save story

Riyuni
2019-04-06 16:16:02

Hahaha.. Oh Aisyah.
ceritanya bagus khas nuansa remaja.
Untuk prolog itu terlalu panjang kak.
Semangat ya kak. Kalau sempat singgah ya ke tulisan saya.

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 756 13
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

456 351 4
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

584 452 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

576 450 14
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

711 537 8