“Bib? Halo… Bib… Habib, cowok popular seantero sekolah…WOI!!!”

“Eh, iya. Kenapa?” ucap Habib tergagap, ia kembali dari alam bawah sadarnya.

“Kok kenapa sih? Lo dengerin gue atau enggak sih? Apa jangan-jangan lo enggak denger satupun yang gue bilang dari tadi, ya?”

“Duh, maaf. Lo bilang apa tadi?” Habib tampak linglung. Bagaimana tidak, sejak tadi dia hanya asyik terjebak dalam imajinasi panjangnya.

“Tuh, kan, gue bilang juga apa. Hhh, terpaksa harus gue jelasin lagi. Jadi gini, tadi Abang gue nelpon buat pulangin sepeda motor dia yang gue bawa lari…”

“Terus Aisyah gimana?”

“Ish, dengerin gue dulu napa? Jangan asal potong gitu.”

“Iya, deh, iya.”

“Jadi, karena Abang gue udah ngamuk-ngamuk yang enggak jelas di rumah, mendingan gue pulang sekarang daripada entar barabe sampe tujuh turunan. Udah ah, gue cabut dulu.”

“Eh, Bintang. Bentar dulu.”

“Apaan lagi sih?”

“Aisyah lo tinggalin gitu aja?”

“Duh, iya. Gara-gara Abang gue nih, gue hampir ninggalin salah satu orang penting. Lo juga, kenapa enggak bilang dari tadi?”

Lah? Perasaan tadi udah gue bilangin deh, batin Habib memandang aneh Bintang. Habib hampir melongo dibuatnya.

Bintang lari dengan tergesa-gesa menuju toilet untuk menjemput Aisyah. Kemudian keluar toilet diikuti dengan Aisyah yang ditarik lengannya oleh Bintang yang tengah terburu-buru.

Sorry, Bib. Gue sama Bintang duluan, ya.” Aisyah pamit sembari mengambil tasnya dengan secepat kilat.

“Enggak papa, gue udah jelasin sama tuh bocah,” cerocos Bintang yang terus melengos menuju parkiran sepeda motornya.

Bukan sekedar hampir melongo lagi tetapi sekarang habib sudah sepenuhnya melongo menyaksikan kejadian menegangkan itu. Ia tidak dapat membayangkan seberapa menyeramkan saudara laki-laki Bintang itu sampai-sampai Bintang menjadi sepanik itu setelah mendapat telpon dari saudara laki-lakinya itu.

***

Di hari libur begini, Aisyah tidak mau tinggal diam di dalam rumah yang akan membuatnya bosan itu. Ia mengambil inisiatif untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk semua orang. Ia pun membuka sosial medianya yang biasa disebut dengan snap chat.

Ia membuat video singkat berupa ajakan untuk teman-temannya yang mau ikut dengannya ke panti asuhan untuk memberikan santunan dengan membawa barang bekas dari rumah masing-masing.

Alhamdulillah, banyak yang ikut berpartisipasi dalam ajakan Aisyah yang sangat bagus itu. Terutama Bintang dan Habib, mereka juga sedang menganggur di rumah. Mereka sangat setuju dengan Aisyah karena selain membuat anak yatim piatu bahagia mendapatkan bingkisan dari mereka, mereka juga dapat memanfaatkan barang bekas mereka yang sudah menumpuk di rumah, daripada terbuang sia-sia lebih baik diberikan kepada yang sangat membutuhkannya, ‘kan?

“Oi, kapten,” panggil Bintang sambil melambaikan tangannya ketika dia, Habib dan teman-temannya telah datang di panti asuhan yang akan dikunjungi. Aisyah sudah lumayan lama sampai di panti asuhan ini kebetulan ia juga kenal dengan kepala panti asuhan itu. Saat masih kecil, orang tuanya sering membawanya ke sana, bersilaturahmi dengan para anak panti.

“Ya udah, masuk, yuk!” Aisyah menuntun teman-temannya untuk masuk ke panti asuhan itu.

Mereka disambut baik oleh anak-anak panti di sana. Aisyah sudah lumayan lama tidak berkunjung lagi ke sana, karena beberapa hal yang tidak dapat dijelaskan.

Anak-anak panti sepertinya sangat merindukan kedatangan Aisyah sehingga mereka berhamburan untuk menyalami Aisyah. Ternyata mereka masih ingat dengannya, walaupun dia sudah lama tidak main ke sana lagi.

“Adek-adek, Kakak bawa temen-temen Kakak, nih. Mereka bawa banyak hadiah buat kalian,” ucap Aisyah menjelaskan kedatangan mereka pada anak-anak panti. Ucapan Aisyah dibalas dengan sorak-sorai para anak panti yang sangat senang karena mereka akan mendapatkan hadiah dari Aisyah dan kawan-kawan.

“Eits, tapi kalian enggak boleh rebutan, ya. Semuanya pasti kebagian,” lanjut Aisyah memasang senyum simpul khasnya.

Anak-anak panti itu sangat patuh pada Aisyah, mereka sangat tenang ketika melihat segala hadiah yang diberikan pada mereka. Walaupun itu sebuah barang bekas, tetapi mereka sangat senang. Mereka tidak memandang hadiah yang mereka dapat, tetapi sebuah keikhlasan yang diberikan kepada mereka, itulah yang paling diharapkan oleh mereka. Terlebih lagi dengan kedatangan Aisyah yang telah lama mereka nanti itu.

“Wah, bola basket!” seru salah satu anak panti yang sedang mengobrak-abrik barang sumbangan itu. Semua anak panti langsung berlari ke kedudukan anak yang berseru tadi. Mereka menjadi heboh dan menghampiri Aisyah yang tengah duduk berbincang dengan kepala panti.

“Kak, ajarin kami main basket, dong,” pinta mereka.

“Anak-anak jangan ganggu Kak Aisyah dulu, ya. Kak Aisyah ‘kan baru sampe jadi masih capek,” ucap sang kepala panti.

“Enggak apa-apa, Bu. Aisyah justru senang, Aisyah ‘kan udah lama enggak main sama mereka,” ucap Aisyah dengan senang hati menerima permintaan mereka. Aisyah mengajak Bintang, Habib dan teman-temannya yang lain untuk ikut mengajari anak panti belajar bermain basket.

***

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 1 0 0 0
 
Save story

Riyuni
2019-04-06 16:16:02

Hahaha.. Oh Aisyah.
ceritanya bagus khas nuansa remaja.
Untuk prolog itu terlalu panjang kak.
Semangat ya kak. Kalau sempat singgah ya ke tulisan saya.

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 759 13
Anne

Anne's Tansy

By murphy

852 540 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

433 321 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 881 15
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

469 379 6