Aisyah dan Bintang sedang joging pagi itu, bertepatan hari minggu. Rumah Aisyah dan Bintang memang sekompleks. Walaupun begitu, mereka tidak berbarengan berangkat sekolah, karena Bintang selalu nebeng dengan saudara laki-lakinya.

“Assalamualaikum, Aisyah.” Habib tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

“Wa ’alaikumsalam.” Aisyah membalas salamnya.

Ya Allah, kenapa setiap hari harus ketemu terus sama makhluk yang satu ini, batin Aisyah.

“Aisyah, nanti lo mau keluar enggak sama gue?”

“Cuma sama lo doang?”

“Lo boleh ajak Bintang juga.”

“Bintang, gimana?” tanya Aisyah pada Bintang.

“Gue sih oke oke aja,” jawab Bintang mengangkat kedua jempolnya.

“Mmm, ya udah, deh. Gue mau.”

“Oke, nanti gue datang ke rumah lo jam satu siang. Gue duluan, assalamualaikum.” Habib langsung pamit begitu pembicaraan mereka berakhir.

“Wa ’alaikumsalam,” jawab Aisyah.

“Aisyah, gue juga pulang dulu, ya,” ucap Bintang berpamitan pada Aisyah yang dibalas dengan anggukan dari Aisyah.

_______________

Aisyah sudah siap dan sedang menunggu di ruang tamu. Jam masih menunjukkan pukul setengah satu siang, tapi Aisyah sudah sangat rapi menunggu kedatangan Bintang dan Habib. Aisyah memang sangat on time jika ada janjian yang menyangkut paut dengan dirinya.

“Assalamualaikum,” ucap Bintang yang sudah datang dan memasuki rumah Aisyah begitu saja.

Bintang memang sudah biasa datang ke rumah Aisyah untuk bersilaturahmi. Mengingat Aisyah adalah anak tunggal dalam keluarganya dan teman yang selalu mengunjunginya hanyalah Bintang. Selain akrab dengan Aisyah, Bintang juga akrab dengan keluarganya. Bintang memang dikenal sebagai gadis yang supel dan mudah beradaptasi dalam hubungan sosialisasi.

“Wa ’alaikumsalam, kamu bawa sepeda motor?”

“Iya.”

“Terus Abang Bulan gimana?” Aisyah memang selalu memanggil saudara Bintang dengan sebutan Bulan.

Sejarahnya, dulu saat Aisyah berkunjung ke rumah Bintang ia mengisengi saudara Bintang dengan menyebutnya Bulan, karena jika di alam semesta yang begitu luas ini memiliki bulan tentu ada bintang yang selalu menemani.

Begitu pula dengan ke kediaman Bintang yang jauh lebih kecil dari alam semesta ini tentu yang namanya Bintang selalu ada Bulan yang menemani. Dan semenjak itu Aisyah selalu memanggil saudara Bintang dengan sebutan Bulan.

“Tenang aja, dia asyik main game di kamarnya. Ya udah, gue bawa lari sepeda motornya daripada nganggur tuh sepeda motor.”

Setengah jam kemudian, Habib datang ke pekarangan rumah Aisyah. Hal itu dapat diketahui dari suara klakson sepeda motornya.

“Lo udah pamit?” tanya Habib pada Aisyah.

“Udah. Jadi kita mau kemana, nih?”

“Kata saudara gue, ada cafe yang baru dibuka suasana nyaman banget buku-buku juga banyak di sana.”

“Ya udah. Ayuk!”

Kafe yang dimaksud Habib memang benar-benar memikat mata dan cocok bagi remaja saat ini. Suasananya yang nyaman dan dihiasi rak buku di setiap sudutnya. Habib dan kawan-kawan lebih memilih duduk di dekat rak di sudut kafe dan memiliki sofa yang nyaman.

Jika dilihat-lihat mata Aisyah nampak berbinar-binar melihat buku-buku yang tersusun rapi di rak itu. Tanpa banyak cincong, dia langsung mengambil salah satu buku yang terpajang di rak, ia membuka dan juga menciumi wangi buku itu. Bagi Aisyah, setiap buku itu memiliki wangi yang berbeda-beda yang dapat membuat hormon adrenalin-nya bangkit.

Jika Aisyah dihadapkan pada dua pilihan antara shopping dan membaca buku, ia lebih memilih duduk berlama-lama di sebuah tempat yang dikerumuni buku-buku. Bintang yang melihat Habib tersenyum memandangi Aisyah yang sedang berdiri di dekat benda kesayangannya itu berbisik pada Habib.

“Dia emang begitu. Aisyah enggak bakal tahan ngelihat benda yang disukainya itu.”

“Gue tahu. Aisyah emang enggak bisa dipisahin sama benda yang bernama buku,” ucap Habib yang masih memandang lekat Aisyah.

“Woi, jangan kelamaan entar jadi zina mata,” ucap Bintang agak keras sehingga membuyarkan tatapan lekat Habib dan membuyarkan kefokusan Aisyah pada buku yang tengah dibacanya saat ini. Tentu saja Aisyah langsung berbalik dan duduk dengan mereka dan masih tetap menggenggam sebuah buku tentang wanita muslimah di tangannya itu.

“Siapa?” tanya Aisyah.

“Ehem.” Habib memberi kode kepada Bintang untuk tidak memberitahukannya.

“Enggak, ah. Lo keasikan baca buku sih, makanya lo ngayal ada yang bicara.”

Disaat Aisyah pergi ke toilet, Bintang mendapatkan telepon dari saudaranya, si Bulan. Dia marah besar pada Bintang dan mengancamnya jika tidak segera pulang maka ia tidak akan mau mengantarkan dia sekolah lagi dan meminta pada orang tuanya untuk tidak mengizinkan dia main keluar rumah lagi.

Bintang tidak bisa bertindak lagi jika saudaranya itu ngambek, mau tidak mau ia harus pulang sekarang juga, jika tidak kebebasannya akan dipertaruhkan.

“Habib, gue pulang dulu, ya. Abang gue ngamuk dan gue harus on the way segera, gue titip Aisyah ke lo, ya. Bye,” ucap Bintang terburu-buru.

Bintang benar-benar tidak mengizinkan Habib untuk berbicara sedikitpun, ia langsung pergi tanpa mendengar persetujuan dari Habib. Bagaimana caranya Habib akan menghadapi Aisyah yang tergolong sebagai gadis yang over protektif itu? Malahan ia akan dibuat pusing olehnya.

“Loh, Bintang kemana?” tanya Aisyah ketika ia telah selesai dengan urusan nya di toilet.

“Pulang. Dia nitipin lo ke gue,” balas Habib agak ragu, ia takut Aisyah akan mengomelinya tanpa ampun. Jika hal yang bersangkutan dengan Aisyah, Habib lebih baik angkat tangan saja.

“Duh, kok bisa? Kelewatan banget tuh anak pake ninggalin gue segala,” racau Aisyah.

Ia benar-benar merasa frustrasi dengan kelakuan Bintang yang kelewatan itu. Bagaimana bisa Bintang dengan mudahnya meninggalkan dirinya dengan Habib yang tentu saja tidak halal baginya itu.

“Lo mau pulang? Biar gue anterin,” tawar Habib.

“Lo tahu enggak apa hukumnya cewek jalan sama cowok yang bukan muhrimnya tanpa di temenin muhrimnya?”

Habib sudah bisa menebaknya, ia akan diceramahi oleh Aisyah mengenai omongannya itu.

“Ya, tahu. Tapi, lo udah diamanahin ke gue dan gue harus tepatin itu.”

“Lo pulang aja. Biar gue cari solusi sendiri,” ucap Aisyah memaksa Habib untuk segera pergi dari hadapannya.

Aisyah benar-benar tidak menyangka dengan tindakan ceroboh Bintang padanya. Sungguh saat ini dia sangat merasa pusing dengan permasalahan yang harus ia hadapi itu. Dia pun mengambil mushaf Al-Quran di tasnya yang berada di atas meja. Dia berusaha menenangkan dirinya dengan membaca ayat-ayat Allah yang indah itu. Mungkin secercah solusi dapat ia peroleh setelah berkomunikasi melalui qalam Allah tersebut.

...

Saat Habib tengah asyik mengaji melanjutkan bacaan Al-Qurannya, ia dikejutkan oleh nada dering dari ponselnya. Ia pun menghentikan rutinitas wajibnya itu dan segera melihat siapa yang menelfon dirinya, di sana tertera nama Bintang.

“Assalamualaikum,” ucapnya.

“Wa ’alaikumsalam, lo kemanain Aisyah? Kok dia belum pulang juga.” Suara Bintang terdengar sangat panik di seberang sana.

“Dia suruh gue pulang duluan.”

“Hah? Lo itu kenapa sih? Gak bisa banget jaga amanah. Seharusnya lo bujuk dia pulang, bagaimana pun juga dia itu cewek. Gue enggak mau tahu lo harus bawa Aisyah pulang dengan selamat. Nyokapnya nanyain gue mulu.”

Bintang benar, bagaimana pun juga Aisyah itu seorang gadis yang memiliki kelemahan walaupun ia telah belajar bela diri dan saat ini adalah masanya bagi preman malam di luar sana untuk beraksi mencari mangsa. Padahal dalam agama Islam seorang hamba harus dapat memelihara amanat Allah, menunaikan serta memegangnya dengan erat.

Tanpa pikir panjang, dengan sigap Habib mengganti bajunya dan pergi mencari Aisyah. Saat Habib tengah mengeluarkan sepeda motornya, ia dikejutkan oleh kehadiran Mamanya yang datang secara mendadak di depannya itu.

“Kamu mau kemana malam-malam begini?” ucapnya.

“Habib mau cari Aisyah, temen Habib, Ma.”

“Emangnya ada masalah apa?”

“Duh, ceritanya panjang banget, Ma,” ucap Habib sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia benar-benar terlihat kacau.

Bagaimana pun juga ia telah merusak sedikit kepercayaan Bintang terhadap dirinya karena tidak bisa menjaga Aisyah dengan baik. Ia seharusnya ikut mencari solusi bagaimana cara Aisyah untuk pulang dengan nyaman dan aman. Namun, ia merasa telah gagal menjadi pria sejati karena meninggalkan seorang gadis begitu saja di tempat yang asing baginya.

“Ya udah, kita pake mobil Mama aja,” ucap Mama Habib mengambil inisiatif untuk menemukan keberadaan Aisyah saat ini.

Saat di perjalanan mencari Aisyah, Habib menceritakan segalanya sedetail mungkin tanpa ketinggalan sedikitpun pada Mamanya. Dan benar saja apa yang diduga Habib, ia akan dimarahi habis-habisan oleh Mamanya karena terlalu ceroboh menjadi seorang pria. Habib berharap Aisyah masih berada di kafe itu, karena untuk mencari seorang gadis di malam yang gelap gulita ini sangatlah sulit baginya.

Setelah mereka sampai di kafe itu, Habib mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe yang telah tutup tersebut. Dia mengelilingi setiap sudut lingkungan kafe dan ia belum juga menemukan dimana keberadaan Aisyah.

Permasalahan yang ia hadapi menjadi semakin rumit ketika ia juga telah kehilangan Mamanya. Satu gadis saja belum ketemu, sudah ditambah lagi dengan wanita paruh baya yang keberadaannya entah dimana saat ini. Habib benar-benar sangat pusing dibuatnya.

.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 2 0 0 0
 
Save story

Riyuni
2019-04-06 16:16:02

Hahaha.. Oh Aisyah.
ceritanya bagus khas nuansa remaja.
Untuk prolog itu terlalu panjang kak.
Semangat ya kak. Kalau sempat singgah ya ke tulisan saya.

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 877 15
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

687 509 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

584 452 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

456 351 4
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

711 525 9