Walau se-protect dan nyebelin apapun gue

Seenggaknya gue enggak two face sama semua orang

Gue masih menjadi diri gue sendiri

Inilah gue, Aisyah yang kalian sebut sebagai muslimah nyebelin

____

Lapangan dipenuhi dengan teriakan dan sorakan yang mengusik jiwa dan segala indra. Kalian tahu sendiri, jika terjadi pertandingan di sekolah itu—apalagi jika pertandingan basket yang memiliki anggota yang Subhanallah…selalu membuat jiwa kaum hawa melayang menjulang angkasa.

Mereka—anggota tim basket—terkenal dengan ketampanan, kebaikan, kesholehan, dan apalah namanya itu.

Apalagi ada Habib, bintang di sekolah SMA 1 Merdeka. Ia sangat disukai dan dikagumi oleh hampir semua siswi. Namun tidak dengan Aisyah, gadis berparas manis ini pernah berucap, “Buat apa kagum sama dia? Kalian kayak enggak ada kerjaan aja kejar sana-sini cuma buat cari perhatian Habib. Teriak-teriak lagi kayak ketiban pohon. Noh, setan di samping nyengir saking senangnya. Sosok yang semestinya dikagumi, dikejar, ditangisi itu pencipta kalian. Apa pernah kalian kagum dengan keesaan Allah? Apa pernah kalian kejar pahala demi ridha Allah? Apa pernah kalian nangis karena dosa terus sujud minta ampunan sama Allah?” Tepat saat Aisyah mengucapkannya, semua orang yang menyaksikan kejadian itu terdiam seribu bahasa. Bahkan Habib sendiri juga ikut terdiam dibuatnya. Aisyah memang terkenal jika sedang menasehati, kata-katanya selalu tepat di hati pendengarnya.

...

Aisyah yang terburu-buru ingin ke toilet mendapati sebuah bola basket yang menggelinding tepat ke arahnya. Jarak ia kini dengan lapangan memang cukup dekat. Aisyah menoleh ke lapangan, ia melihat para pemain basket mendorong dan menarik tubuh tegap Habib, sepertinya mereka segan untuk memanggil Aisyah.

“Aisyah, bisa tolong ambil bolanya?” pinta Habib, dengan berteriak.

Sebenarnya posisi Aisyah dengan lapangan tak terlalu jauh, namun karena keributan para penonton, Habib jadi berteriak agar dia mendengar suaranya dengan jelas. Aisyah perlahan mengambil bola itu kemudian maju beberapa langkah, tangannya siap untuk melempar bola basket.

“Oke, lempar ke sini, Aisyah,” teriak Habib.    

BUK! Aisyah menghantam dengan keras bola itu ke kepala Habib. Terdengar teriakan histeris para penonton dan pemain memanggil nama Habib yang jatuh terduduk akibat lemparan itu. Aisyah yang menyadari kepala sekolah sedang menatapnya tajam, langsung lari terbirit-birit. Ada dua alasan ia lari, pertama karena tidak ingin dihukum kepala sekolah dan kedua dia sudah tidak bisa lagi menahan niatnya untuk pergi ke toilet.

Rasain. Emang enggak bisa ambil sendiri? Udah jelas ini lagi kebelet, batin Aisyah.

Aisyah sudah dicap sebagai Muslimah Nyebelin oleh para gadis di sekolah itu. Giliran yang Adam ikut yang Hawa saja, karena gadis di sekolah itu selalu merasa benar dan tak pernah salah. Jika mereka salah, kembali ke pasal pertama. Hal itu berlaku kecuali untuk Habib, sang idola para gadis seantero sekolah.

Sabarkan kalbu kalian wahai pria dan jadikan pahala. Innallaha ma'ashobirin, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.

“Aisyah,” panggil seseorang.

Astagfirullah. Woles oi,” ucap Aisyah terkejut karena panggilan sahabatnya yang mendadak itu. “Sorry, gue bikin lo kaget. Gini, gue mau nanya. Lo beneran tadi bikin masalah lagi?”

“Enggak, ah. Kapan?”

“Waktu olahraga di lapangan.”

“Enggak tuh.”

“Masa sih? Tapi katanya lo habis hantam kepala Habib pake bola basket.”

“Itu sih, dianya aja yang enggak bisa nangkep lemparan gue. Udah jelas tadi gue kebelet, ya, gue lempar gitu aja, eh tahu-tahunya kena kepala.”

“Minta maaf, gih.”

“Enggak, ah. Gue 'kan enggak sengaja.”

“Untung aja dia enggak sampe masuk UKS. Kalo sampe geger otak, berabe urusan lo,” ucap Bintang menakut-nakuti Aisyah.

“Ah, lo kebanyakan nonton sinetron. Masa cuma gara-gara bola basket otak dia sampe geger, kecuali emang ada yang enggak beres sama otaknya.”

“Ish, pokoknya lo harus minta maaf. Buruan, gue temenin.”

“Ogah, ah.”

“Habib.” Bintang memanggil Habib yang tengah duduk di kursinya, pun saat itu dia sedang mengobrol dengan teman-temannya.

“Rempong banget sih lo,” ucap Aisyah pada Bintang yang bertindak seenaknya saja.

“Udah, pergi sana,” Bintang yang tidak sabaran mendorong pelan Aisyah dari belakang. Aisyah memandang tangan Habib yang sedang mengompres keningnya yang lebam.

“Bib,” panggil Aisyah.

“Cie, Beib,” goda teman-teman Habib. Namun, Aisyah segera menatap mereka tajam membuat mereka diam menahan tawa.

“Soal yang tadi itu gue minta maaf, gue enggak sengaja.” Aisyah mengulurkan tangannya pada Habib namun ia menariknya kembali sebelum Habib menyentuh tangannya untuk bersalaman. Habib yang salah tingkah langsung mengibaskan tangannya seolah-olah ia sedang mengusir lalat yang terbang mendekatinya.

Habib menetralisir rasa malunya kemudian memalingkan wajah, “Enggak, ah,” ucapnya berlagak sok jual mahal pada Aisyah.

Aisyah yang tidak mempermasalahkan hal itu langsung pergi. Intinya dia sudah minta maaf, selebihnya ia tidak mau tahu. Habib yang bercanda itu langsung memanggil Aisyah. Ia tidak tahu reaksi Aisyah akan setenang itu.

“Oke, deh. Tapi ada syaratnya.”

“Gue enggak butuh syarat-syaratan segala, yang penting gue udah minta maaf, permasalahan selesai.”

“Ya udah, di luar sana banyak banget penggemar fanatik gue yang lagi nungguin lo.”

“Oh, jadi lo ngancam gue?”

“Enggak. Pokoknya lo lakuin syaratnya buat keselamatan lo, gue juga peduli sama lo.”

Aisyah menghela napas berat. Habib benar-benar ingin membuatnya pusing tujuh keliling. Aisyah melirik keberadaan Bintang yang menyuruhnya untuk menerima persyaratan itu, akhirnya mengalah dan menerima syarat dari Habib. “Apa?” Bukannya Aisyah takut dengan kelompok pecinta Habib melainkan ia sudah berkesimpulan kalau Habib akan terus memancing-mancing emosinya.

“Gue punya satu permintaan.”

“Emangnya om jin pake permintaan segala,” ucap Aisyah mulai merasa kesal pada Habib yang banyak basa-basinya itu. Mendengar ucapan itu benar-benar menggelitik perut teman-teman Habib sampai-sampai mereka tertawa terbahak-bahak.

“Lo harus temenin gue ke kantin setiap istirahat selama sebulan. Mudah, 'kan?”

BRAK! Aisyah menggebrak meja yang berada di depan Habib. Ia tidak setuju dengan permintaan konyol Habib itu. Bayangkan saja, dalam waktu sebulan kita harus menghabiskan waktu karena sebuah masalah yang sepele. Sebulan itu sangatlah lama bagi Aisyah. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk membaca buku dan makan siang di kelas, dikorbankan untuk menemani Habib makan di kantin. “Woles, 'kan cuma makan.”

“Hhh, oke. Tapi gue harus dibolehin ngajak Bintang.”

“Hmm, boleh gak ya?” kali ini Habib benar-benar ingin memancing emosi Aisyah. Aisyah mengangkat tinjunya ke udara mengisyaratkan kalau tangannya sudah gatal untuk menghabisi Habib lebih dari saat kecelakaan di lapangan. “oke, deal?” Nyali Habib ciut dan akhirnya mengalah, ia menjulurkan tangannya pada Aisyah.

Deal.” Aisyah mengabaikan uluran tangan Habib dan malah pergi ke kursinya. Sudah kedua kalinya Habib dikerjai oleh Aisyah, tangannya membatu seakan telah digantung berates-ratus tahun dan berdebu.

Tindakan dan pikiran Aisyah tidak sejalan seperti yang apa yang orang lihat darinya, permintaan itu membuatnya tidak bisa fokus pada materi yang sedang ia pelajari.

PRAK BRUK! suara gaduh terdengar dari luar. Setelah itu juga terdengar suara rengekan yang sangat familier bagi Aisyah. Aisyah pun memeriksa keadaan di luar sana dan dia menemukan Bintang yang tengah memegang kakinya. Sepertinya ia terjatuh dari bangku yang letaknya ada di depan kelas. Lihat saja, bangkunya saja sekarang sudah ambruk dan kaki Bintang yang sepertinya keseleo.

Aisyah langsung mengetahui apa yang sebelumnya sahabatnya itu lakukan. Bintang pasti loncat-loncat di atas bangku karena terlalu girang. Aisyah sangat tahu itu, bahkan hal itu sudah sangat klise baginya. Soalnya ketika permintaan Bintang terwujud, ia akan melakukan hal yang kekanak-kanakan saking senangnya.

Aisyah langsung membopong Bintang ke bangkunya. Ia harus membuat Bintang merasa baikan dengan kakinya yang keseleo itu. “Lo kenapa, Bin?” ucap Habib mendekati mereka.

“Sst, bukan urusan lo,” ucap Aisyah yang mulai terganggu dengan keberadaan Habib yang terlalu ikut campur dengan urusan mereka.

“Ish, lo enggak boleh gitu. Habib kan ketua kelas jadi wajar aja dia nanyain keadaan anggotanya. Ini, kaki gue keseleo, Bib. Hehe..,” ucap Bintang membela Habib.

“Lain kali hati-hati, ya,” pesan Habib.

“Iya, hehe..” Bintang masih memaksakan dirinya untuk terlihat kuat di depan Habib.

Aisyah yang memegang kaki Bintang dan membuatnya berada di pahanya, langsung membuat Bintang kaget. “Eh, lo mau ngapain?” katanya tersentak hampir saja ia kehilangan keseimbangannya.

“Mijit kaki lo lah, ngapain lagi?” Aisyah beralih memijat-mijat kaki Bintang pelan-pelan.

“Enggak usah.”

“Enggak. Entar kaki lo bengkak, kaki lo keseleo tahu.”

“Ahaha, cuma keseleo juga. Nanti bakal sembuh sendiri.”

“Mana bisa sembuh sendiri, malahan makin parah.”

“Aduh!” Bintang meringis ketika tanpa sengaja Aisyah memukul kakinya yang keseleo itu dengan sedikit keras.

“Tuh, 'kan? Lo sih banyak kilah, kaki lo kepukul, 'kan. Udah, diem aja. Bib, ambilin es batu gih.”

“Kok gue?”

“Ya Allah. Lo 'kan ketua kelas, masa anggotanya ada masalah lo enggak nolongin. Gue heran deh sama lo jadi cowok peka dikit napa apalagi notabene lo itu ketua kelas.” Sisi cerewet Aisyah kembali menjelma.

“Oke, tunggu sebentar.” Memang untuk saat ini Habib sedikit lelet, biasanya ia selalu sigap dengan apa yang terjadi pada anggota kelasnya.

...

TIK TIK TIK. Saking sunyinya suasana malam di lingkungan tempat Aisyah , bunyi jam weker biru yang terletak di meja belajar Aisyah pun terdengar sangat jelas.

Raut wajah Aisyah terlihat serius karena ia sedang mencari jalan keluar agar terbebas dari belenggu Habib. Dia menanyakan semua hal yang tidak disukai Habib kepada haters dan fans Habib, dan mulai besok Aisyah akan membuat Habib menderita tiap berada di dekatnya. Sekarang wajahnya muncul smirk evil andalannya.

                                                ***

CUIT CUIT. Aisyah nampak segar sekali sama seperti hari-hari sebelumnya. Dia menyukai suasana pagi ini, pagi yang menyegarkan. Aisyah menarik napas dalam-dalam, menghirup udara segar sambil berjalan.

“Assalamualaikum, Aisyah.” Seseorang tiba-tiba datang dari belakangnya. Sungguh. Ia sangat terkejut dan merasa terganggu akan hal itu.

“Wa ‘alaikumsalam.” Aisyah hanya menjawab salam orang itu tanpa melihatnya. Dia tetap berjalan, dia tidak perlu dan tidak punya waktu untuk mengetahui siapa orang yang barusan menyapanya itu.

“Ingat, jangan lupa traktirannya,” ucap orang itu lagi.

Langkah Aisyah terhenti, ia tahu betul siapa yang barusan bicara. Dia pun berbalik dan ternyata dugaannya benar, orang yang memanggilnya barusan adalah Habib. “Kenapa lo ada di sini?”

“Rumah gue juga ada di kompleks ini. Itu, enggak terlalu jauh dari sini.”

“Gue enggak nanya rumah lo dimana.” Sifat judes yang Aisyah perlihatkan benar-benar membuat habib tidak habis pikir. Kenapa orang se-over protective dia judesnya minta ampun,  cara ia berbicara itu layaknya boncabe yang disebut-sebut sangat pedas itu.

Aisyah kembali melanjutkan perjalanannya. Dia benar-benar tidak tahu Habib tinggal di kompleks yang sama dengannya. Padahal ia tidak pernah melihat Habib di kompleks itu sebelumnya.

“Lo ikut enggak? Gue boncengin,” tawar Habib pada Aisyah.

“Enggak usah, makasih. Gue enggak bisa berboncengan sama yang bukan muhrim gue.”

“Bener juga, sih. Tapi lo enggak takut telat?”

“Enggak. Biasanya gue juga jalan kaki. Lagi pula sekolah 'kan enggak jauh dari sini, jalan kaki sepuluh menit aja udah nyampe.”

“Ya udah, gue duluan, ya. Assalamualaikum.”

Wa ‘alaikumsalam.”

                                                ***

TONG TENG TENG TONG. Waktu istirahat telah tiba, perasaan Aisyah menjadi berkecamuk karena janjinya dengan Habib itu. Ia akan membuat Habib merasa tidak nyaman berada di dekatnya, sesuai dengan strategi yang telah ia buat semalam.

"Aisyah, traktirin gue, ya," pinta Habib.

"Hah? Ogah."

"Sekali-kali enggak kenapa-napa, dong. Buat satu porsi nasi goreng aja"

"Pesen aja sana."

"Oke. Lo mau apa?"

"Mi pangsit aja."

"Oke. Eh, Bintang mana?"

"Dia ada urusan sama guru di kantor."

"Oke, tunggu, ya."

Di luar perkiraan Habib Aisyah dapat menghabiskan pangsitnya lebih cepat dibandingkan dengannya. Ia pikir walau semenyebalkan apapun Aisyah ia tetap seorang perempuan yang kebanyakan dari mereka pasti makan dengan santai dan jaga image apalagi didepan lawan jenis.

Ternyata Aisyah malah sebaliknya masa bodo sama yang namanya jaim mungkin itulah yang dapat Habib simpulkan dari cara dan kecepatan makan Aisyah. Dan kenyataannya ia memang tidak bisa makan lama-lama, ia akan memakannya selagi hangat.

"Bib, gue beli minum dulu, ya."

"Oke."

Sudah sepuluh menit berlalu, namun Aisyah belum juga kembali. Padahal hanya membeli minuman. Habib pun sudah menghabiskan nasi gorengnya lima menit yang lalu. Habib yang positif thinking langsung pergi, mungkin saja Aisyah ke toilet karena kebanyakan makan sambal yang sudah lima sendok ia campurkan dalam mienya.

Namun, Ibu kantin segera memanggilnya dan berkata bahwa Aisyah mengatakan padanya bahwa Habiblah yang akan membayar semuanya. Habib sangat terkejut dengan penuturan Ibu kantin. Karena tidak ingin menanggung malu, ia segera membayar semuanya.

Aisyah berani-beraninya bohongin gue. Pantesan aja dia enggak balik-balik, batin Habib menggerutu. Habib kembali ke kelas dengan memasang wajah kesal. Wah, yang benar saja. Habib melihat Aisyah yang tengah membaca santai dibangkunya. Dia pun menghampiri Aisyah.

"Aisyah, katanya lo mau traktir gue. Gimana sih?"

"Assalamualaikum." Aisyah hanya menjawab dengan salam.

“Eh, lupa. Wa ’alaikumsalam. Lo itu gimana, sih?”

“Kapan gue bilang gitu?”

“Tadi ‘kan gue minta traktiran dari lo.”

“Emang iya. Tapi, emang gue bilang setuju buat traktirin lo?”

“Tadi lo bilang, pesen aja sana,” ucap Habib sambil mempraktekkan cara Aisyah mengucapkannya.

“Berarti, gue enggak bilang iya, ‘kan?”

“Bahkan gue yang jadi traktir lo.”

“Lo ‘kan tadi nanya gue mau makan apa? Itu artinya lo yang nawarin gue, ‘kan?”

“Argh..”

“Udah sana. Lo ganggu gue aja, hush..”

Gue kok mudah dikerjain sama dia, sih? batin Habib semakin kesal.

“Habib,” panggil Aisyah. “Nih, gue ganti. Lo enggak usah bayar bagian gue. Tadinya gue cuma mau ngerjain lo biar lo kesel terus kesepakatan yang lo putusin dengan seenaknya itu batal dan gue enggak perlu nemenin lo lagi.”

“Enggak usah, gue ikhlas.”

“Ini, ambil aja,” ucap Aisyah meletakkan uang itu di atas meja Habib kemudian pergi.

“Tapi..”

“Kalo enggak mau, buat gue aja.” Salah satu teman setim basket Habib mengambil uang itu dan tertawa lebar.

                                                ***

Masih pagi Aisyah sudah berlari sangat kencang. Yang benar saja, Aisyah terlalu terbawa suasana berbicara dengan tetangganya tadi sehingga waktunya berkurang dan sebentar lagi bel akan berbunyi, disaat itulah gerbang sekolah ditutup.

Penampakan gerbang sekolah sudah di depan mata, pak satpam pun sedang menutup gerbang di sana. Aisyah semakin mempercepat laju larinya dan mengaktifkan mode berlari cepat seperti yang ada dalam animasi Naruto. Dengan susah payah berlari cepat dan keringat yang mengucur di pagi hari yang terbilang cukup panas, untung gerbang itu masih bisa ia lewati.

“Aduh, Pak satpam, jilbab saya nyangkut, Pak. Tolong buka lagi pagarnya,” keluh Aisyah saat bagian belakang jilbabnya tersangkut di gerbang itu.

“Aduh, maaf, Neng,” ucap Pak satpam sambil membuka gerbangnya kembali.

“Makasih, Pak,” ucap Aisyah dan berlari seperti tikus yang berhasil lepas dari perangkap.

Assalamualaikum,” Aisyah mengucapkan salam saat memasuki kelasnya. Namun, tanpa ia sadari, nada suaranya seperti sedang melabrak seseorang sehingga saat mendengar suaranya itu, teman-teman sekelasnya terkejut bahkan ada yang sampai beristigfar dan mengeluarkan jurus-jurus bela dirinya saking terkejutnya.

Aisyah yang ngos-ngosan langsung duduk dan mengipasi tubuhnya yang panas.

“Nih, minum dulu,” ucap Habib menawarkan minuman kepada Aisyah. Spontan Aisyah menatap tajam Habib dengan eagle eyesnya. Habib yang melihat tatapan yang siap menyantapnya kapan pun dimanapun itu langsung mengalihkan pandangannya.

Gawat, nih. Badan gue kaku, gue enggak bisa kabur. Gue salah apa, sih? batin Habib menelan saliva-nya dengan susah payah.

“Lo lagi kedatangan tamu, ya? Sewot amat.” Bintang datang dan duduk  di dekat Aisyah, kemudian memberi kode agar Habib segera pergi.

“Enggak.”

“Terus?”

“Gue lagi puasa.”

“Oh, pantesan lo sewot gitu pas ditawarin minuman sama Habib. Tapi enggak gitu juga kali seharusnya lo bilang baik-baik sama dia, serba salah ‘kan jadinya,” nasihat Bintang.

“Tinggalin gue plis.”

“Lo ngusir gue?” tanya Bintang, ia merasa sedikit tersinggung dengan cara bicara Aisyah padanya.

Lagi-lagi Aisyah menatap tajam dengan eagle eyesnya pada Bintang, “Gue butuh istirahat. Gue harus menetralisir suhu tubuh gue dulu. Sana, hush..”

“Ya udah, semoga berkah puasa lo.”

“Makasih.”

Aisyah enteng-enteng saja mengucapkan terima kasih pada Bintang yang berniat memperlihatkan rasa kesalnya tadi namun Aisyah tidak menyadari itu sedikitpun. Bintang yang tidak habis pikir dengan Aisyah hanya menggeleng-geleng minta ampun dengan sahabatnya yang sangat kurang peka itu.

Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Riyuni
2019-04-06 16:16:02

Hahaha.. Oh Aisyah.
ceritanya bagus khas nuansa remaja.
Untuk prolog itu terlalu panjang kak.
Semangat ya kak. Kalau sempat singgah ya ke tulisan saya.

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

277 222 3
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 835 8
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

433 321 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

712 526 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Anne

Anne's Tansy

By murphy

852 540 9