Seiring berjalannya waktu, ketiga keluarga dari tiga sahabat---Aisyah, Bintang dan Habib, semakin akrab. Hal itu tidak lepas dari kesupelan Bintang yang mudah bergaul dengan siapapun. Bintang dan Habib juga sering berkunjung ke rumah Aisyah untuk belajar atau hanya sekedar menemani Aisyah ketika keluarganya tidak ada di rumah. Secara orang tua Aisyah adalah pebisnis yang lumayan sibuk di kehidupannya, sehingga Aisyah sering kali ditinggal sendirian di rumah. Untungnya dengan suka rela kedua temannya itu mau menemaninya di sana.

“Alhamdulillah,” gumam Aisyah saat sedang mengikuti pelajaran di kelas. Ia baru teringat bahwa hari ini adalah hari terakhir dia terkurung dalam penjara kesepakatan dengan Habib.

“Hah?” tanya Bintang. Ia tadi sedikit mendengar suatu ucapan yang keluar dari mulut Aisyah, tapi ia tidak jelas mendengarnya. Aisyah membulatkan matanya kemudian kembali menyipit di dampingi dengan seulas senyuman manis di wajahnya, ia menggeleng. Bintang yang curiga dengan tingkah Aisyah saat ini menatapnya dengan tatapan keingintahuan dan tatapan itu terlihat menggelikan karena lebih terlihat seperti tatapan menggoda.

“Ayo, kasih tahu, dong. Gue penasaran,” ucap Bintang mendekati Aisyah. Tentu saja ia masih memasang tatapan yang seperti sebelumnya, tatapan menggoda yang membuat Aisyah bergidik ngeri.

“Apaan, sih?”

“Beneran?” Bintang mulai menggoyangkan jari-jarinya bersiap untuk menggelitiki Aisyah sampai ia memberitahukan hal yang disembunyikan Aisyah itu darinya. Hal tersebut sempat membuat suara yang lumayan gaduh karena Aisyah terus menghindar dari Bintang yang memaksa dirinya.

Sampai-sampai sebuah deheman dari depan kelas membuat mereka terdiam, guru yang sedang mengajar di kelas itu memberi kode keras kepada keduanya agar menghentikan kelakuan mereka yang membuat gaduh itu, guru itu juga memberikan kode dua jari yang menunjuk matanya dan mereka yang bermaknakan ‘Aku mengawasi kalian.’

Saat jam istirahat dimulai pun Bintang masih membahas hal yang sama kepada Aisyah. Saat ini Aisyah merasa seperti diikuti oleh penggemar fanatiknya. Dengan perasaan terpaksa Aisyah mengambil inisiatif untuk menutup mulut Bintang dengan telapak tangannya lalu memberikan kode garis melintang di mulutnya mengatakan untuk tetap diam. Kemudian ia pergi membawa Bintang sama halnya seperti seorang penculik yang membungkam mulut korban sanderanya.

“Lo bakal tahu nanti,” bisik Aisyah padanya.

Sesampainya keduanya di kantin sekolah, Aisyah melambaikan tangannya kepada Habib yang sedang menunggu di salah satu bangku kantin yang tidak begitu jauh dari keberadaan mereka saat ini. Kemudian, mereka menghampiri Habib yang juga melambaikan tangannya membalas lambaian Aisyah.

“Bintang kok mulutnya ditutupin kayak gitu?” tanya Habib.

“Bawel mulu dari tadi,” jawab Aisyah.

Aisyah melepaskan Bintang darinya dan memaksanya duduk. Kemudian ia pergi sebentar untuk memesan makanan pada Mang Kirman penjual mie ayam di kantin itu yang terkenal dengan kelezatan dan keunikan mie ayam buatannya. Setelah itu, Aisyah kembali ke tempat di mana kedua sahabatnya berada. Sedari tadi ia terus tersenyum, sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu yang begitu menyenangkan baginya.

Bintang berusaha memikirkan hari spesial apakah hari ini sampai-sampai Aisyah sesumringah itu. Jika dilihat dari hari kelahiran mereka tidak ada, Aisyah 12 Januari, Habib 28 Desember sedangkan dia sendiri 16 Mei.  Jika dari awal persahabatan mereka juga tidak. Hari libur pun masih sangat lama. Lalu apa, dong? Sampai dia sebegitu senangnya.

Bintang terus menajamkan setiap indranya, mungkin saja ia bisa mendeteksi hal yang mencurigakan yang bisa ia pakai sebagai petunjuk untuk memecahkan kode misterius dalam diri Aisyah saat ini. Setelah mereka menghabiskan makanan mereka, Bintang masih saja memasang kode siaga pada segala indranya. Namun, semua kesiagaannya itu harus tertunda karena sebuah panggilan alam yang menunjuk dirinya agar segera ke toilet tanpa telat sedetikpun.

“Aisyah, makasih buat satu bulannya,” ucap Habib memulai pembicaraan.

“Iya, sama-sama,” balas Aisyah.

“Gue boleh minta satu lagi enggak?”

“Apaan?”

“Ini ‘kan hari terakhir kesepakatan kita. Lo mau enggak nemenin gue jalan-jalan gitu buat abisin waktu terakhir ini.”

“Mmm, gimana ya?”

“Ya, buat kenangan gitu.”

“Tapi ‘kan kita tetap sahabatan, kayak kita sahabatan karena kesepakatan itu aja.”

“Kalo enggak mau ya enggak apa-apa, sih.” Habib sengaja sedikit menekukkan mulutnya menandakan bahwa ia tengah cemberut.

Jika seandainya di depan habib itu adalah penggemar-penggemarnya, maka raut wajahnya itu akan di abadikan dan dijadikan wallpaper di ponselnya masing-masing saking imutnya, atau bisa juga dibuat meme dengan kata-kata aku tuh enggak bisa diginiin.

“Loh? Kok ambil keputusan gitu aja? Gue mau kok, kebetulan besok hari minggu jadi enggak apa-apa, gue bisa.”

“Seriusan, nih?”

“Serius. Kayak gue enggak pernah serius aja.”

“Oke, gue jamin, deh. Gue enggak bakal ijinin Bintang pergi sebelum dia anterin lo pulang.”

“Hah? Maksud lo apa? Gue enggak ngerti.”

Duh, sepertinya Habib masih menganggap kejadiaan seperti imajinasinya tempo lalu itu benar-benar terjadi. “Eh, enggak. Gue cuma ngigo enggak jelas, enggak usah dipikirin.”

“Ngigonya berkelas dikit napa? Ketahuan banget pikiran lo lagi aneh. Obat lo abis sampe gaje gitu?” ucap Aisyah sedikit bercanda.

“Iya, obat gue abis.”

What? Bener-bener harus diperiksain ni anak, ngomongnya ngelantur mulu. Aisyah agak bingung dengan Habib saat ini, mungkinkah kepalanya habis kepentok tiang listrik? Atau kepalanya habis ketiban kelapa?

Sedangkan di toilet, Bintang nampak buru-buru. Ia tidak ingin ketinggalan satu momen pun, ia harus mendapatkan celah dari segala rasa penasarannya yang menggunung. Ia berusaha untuk kembali secepat mungkin, ia tidak akan mengizinkan satu momen pun terlupakan untuk ia selidiki. Namun, setelah sampai ke keberadaan Aisyah dan Habib, ia masih melihat  pemandangan yang sama, tidak ada reaksi sedikitpun di antara mereka. Setelah itu ia kembali bergabung dengan wajah yang santai menyembunyikan wajah aslinya agar keduanya tidak merasa sedang diinterogasi secara diam-diam olehnya.

Previous <<
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Riyuni
2019-04-06 16:16:02

Hahaha.. Oh Aisyah.
ceritanya bagus khas nuansa remaja.
Untuk prolog itu terlalu panjang kak.
Semangat ya kak. Kalau sempat singgah ya ke tulisan saya.

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 884 15
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 838 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 761 13
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

278 223 3
Anne

Anne's Tansy

By murphy

855 543 9
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9