“Oi, semuanya diharap diam dan duduk.” Habib datang membawa selembar kertas setelah 15 menit keluar dari kelas, ia diikuti Aisyah yang membawa buku panduan. Mereka berdiri di depan kelas, tepatnya di belakang meja guru.

 

“Guru-guru lagi pada rapat, jadi kita di kasih tugas. Semuanya harus pada ngerjain, jangan ada yang main-main. Kerjain yang tertera di papan tulis,” jelas Habib sembari menunjuk papan tulis di dekatnya itu, di sana Aisyah tengah menuliskan tugas yang harus dikerjakan. Oh, ya. Di kelas Aisyah dan Habib merupakan anggota perangkat utama kelas, Habib sebagai ketua kelas dan Aisyah sebagai wakil ketua kelas.

 

Setelah menjelaskan semuanya Habib berpindah membantu Aisyah untuk membagikan buku panduan belajar namun Aisyah membawa pergi semuanya dan membagikannya sendiri. Seisi kelas merasakan atmosfer yang berbeda di antara Aisyah dan Habib. Biasanya untuk urusan membawa buku dilakukan oleh Habib dan urusan membagikan buku pun mereka membagi sama rata, tapi kali ini tidak. Sudah jelas ada yang tidak beres dengan mereka berdua.

 

Saat membagikan buku panduan kepada anggota kelas tepatnya saat mendekati giliran Rasha, Aisyah menatapnya jeda sebentar kemudian memberikan buku itu dengan asal-asalan---dilempar dengan keras, sehingga menohok Rasha.

 

Sepertinya untuk hari itu penuh dengan rapat guru. Tepat di jam pelajaran olahraga dan tanpa di awasi guru, mereka hanya bermain bebas. Semua anggota kelas bermain lempar bola basket. Awalnya permainan itu biasa saja, tapi saat di tengah-tengah permainan seluruh anggota kelas menjadi riuh, untung mereka sedang di gedung olahraga jadi tidak akan mengganggu yang lain.

 

Waktu demi waktu personil dalam permainan itu semakin berkurang karena pertarungan sengit antara Aisyah, Bintang, Habib dan Rasha. Hawa yang panas semakin terasa panas akibat perselisihan itu. Keempatnya tampak berapi-api, membara. Mata mereka yang saling menatap tajam, jika siklusnya dibuat mungkin akan terlihat seperti ini : Aisyah vs Rasha, dan Bintang vs Rasha, Aisyah vs Habib. Dari siklus itu pasti sudah tahu yang mana paling sengit. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kejadian di kantin tadi?

 

“Lo kenapa sih?” tanya Habib mengoper bola basket pada Aisyah.

 

“Enggak kenapa-napa,” jawab Aisyah melemparnya pada Rasha dengan kencang. Tatapannya seperti tatapan yang siap membunuh siapapun yang mengusiknya.

 

“Terus kenapa lo jadi aneh gini?”

 

“Aneh? Bukannya setiap hari sikap gue emang gitu? Aneh.”

 

“Apa lo juga ikutan marah sama Rasha? Terus kalo iya, kenapa malah gue juga ikut apes?”

 

Aisyah tidak menjawab justru fokus pada permainan lempar bola basket. “Lo tanya aja sama temen cecunguk lo itu.” Bintang menggantikan Aisyah membalas pertanyaan Habib.

 

“Emang gue salah apa?” Rasha pun ikut memulai pembicaraan mereka.

 

“Pikirin aja sendiri.” Bintang semakin memperkeras lemparannya pada Rasha.

 

“Ah, jadi cuma gara-gara itu lo berdua jadi sewot gini sama gue. Gue enggak ngerasa salah, tuh. Emang kenyataan, kan?” ucap Rasha, ia kembali tersenyum remeh.

 

“Cih, kok ada spesies manusia yang enggak bisa ngaca kek lo ya di dunia ini? Malahan bisa ngeremehin orang. Pantesan setiap pacaran jalannya cuma sehari doang, paling lama juga tiga hari setelah itu langsung putus.”

 

“Apa lo bilang?” Rasha berjalan mendekati Bintang.

 

BRUK! … BRAK

 

“Argh.” Rasha meringis kesakitan. Ia ambruk akibat hantaman bola yang dilempar oleh Aisyah. Aisyah meledak setelah berusaha diam dalam perselisihan itu. Tidak hanya Bintang dan Habib yang terkejut terhadap hal yang baru saja terjadi, tetapi semua anggota kelas. 

 

Terlihat di sudut mulut Rasha keluar darah segar, ia kembali meringis saat menyentuh bibirnya yang terluka itu dan sesaat kemudian terkekeh saat ia melihat noda darah di tangannya. Baru kali ini ia diperlakukan seperti itu oleh perempuan.

 

Aisyah sempat hendak menendang tubuh Rasha yang ambruk itu, namun Bintang menahannya. Ia menatap Aisyah sembari menggeleng memohon untuk mengakhiri pertengkaran itu bersamaan dengan deru napas Aisyah kembali normal. “Sampah,” gumam Aisyah setelah menatap Rasha sekilas.

 

Setelah beberapa saat, semuanya bubar kecuali Habib dan Rasha. Habib mengulurkan tangannya yang kemudian disambut balik oleh Rasha. “Baru kali ini gue dikalahin sama cewek, lo pasti tau kan seberapa malunya gue di depan anak-anak kelas?” ucap Rasha menertawai dirinya sendiri.

 

“Salah lo sendiri ngajak ribut cewek PMS, apalagi orangnya Aisyah,” balas Habib sembari memberikan air mineral padanya, “gara-gara lo gue ikutan kena apesnya.” Habib melanjutkan ucapannya kemudian mereka berdua melampiaskan kekesalan mereka dengan bermain basket berdua di gedung olahraga yang sepi---hanya mereka berdua.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Riyuni
2019-04-06 16:16:02

Hahaha.. Oh Aisyah.
ceritanya bagus khas nuansa remaja.
Untuk prolog itu terlalu panjang kak.
Semangat ya kak. Kalau sempat singgah ya ke tulisan saya.

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

687 509 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

458 352 4
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

433 321 6
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 833 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 880 15
Anne

Anne's Tansy

By murphy

850 539 9