Hari ini, Fyan telah masuk sekolah. Kembali duduk disampingku. Karena semua perpindahan sekolahnya dibatalkan. Semua anak menatapnya, Fyan pun membalas tatapan mereka dengan asing. “Apa aku salah satu murid yang tidak disukai?” tanya Fyan.

“Begitulah.” Jawabku singkat.

                “Kenapa aku tidak disukai?”

“Nanti kau juga tau.”

                “Kapan?! Apa harus setiap hari aku tersiksa seperti ini? Berjalan ditengah kerumunan orang yang kuanggap asing?” ucap Fyan. Nadanya meninggi, sepertinya dia tengah berusaha mengingat semuanya. Namun bagaimana aku bisa memberitahunya jika aku belum menemukan kebenarannya. Aku hanya bisa menunjukkan sebuah buku harian Fyan yang sebelumnya ia berikan.

“Riana..” ucap Fyan lirih, dia memejamkan matanya. Dia mengingatnya?

                “Kau.. ingat Riana?” Fyan menggeleng. Dia masih memasang muka lesu dan lemahnya.

“Kenapa dalam pikiranku, hanya Alice yang selalu terlintas?”

                “Alice?” tanyaku heran. Apa mungkin Alice punya kenangan yang dapat memutar ingatan Fyan kembali? Tapi apa itu? bukankah selama ini Alice hanya menjadi penonton saja, yang menonton kisah Fyan, Riana, dan A.F.

Kring!!! Dering handphone ku berbunyi.

“Halo?”

                “Selamat pagi. Apa benar ini dengan saudari Feyandra?” tanya orang yang ditelepon itu.

“Iya, benar. Ini siapa?” tanyaku.

                “Kami dari Rumah Sakit Alveeda, seseorang membawa seorang jenazah yang ia temukan dipinggir kota. Dengan identitas bernama Karina Azarine, dan ka…” petugas rumah sakit itu belum selesai bicara, namun handphone-ku sudah jatuh terpelanting tertabrak Alice yang lari. Tentu saja semua terasa gelap. Duniaku? Seperti neraka.

“Alice..” ucapku lirih. Aku memeluk Alice yang berdiri didepanku. “Alice, ka Karin me… meninggal” ucapku. Alice menepuk-nepuk bahuku. Dia turut berduka atas musibahku. Sergap, aku berlari menuju rumah. Semua orang berpakaian hitam telah berkerumun diantara jenazah itu. Aku banting tasku, emosiku menjulak. Seorang wanita ditutup kain putih itu berbaring didepanku. Aku buka perlahan tidung putih itu, ternyata benar. Kakakku.

                Brak!!! Tiba-tiba Fyan jatuh diantara pelayat itu. Semua ramai-ramai menggotongnya ke kamarku. Sementara aku masih terpaku dengan mayat itu. Setelah sebelumnya ayah pergi, dan sekarang ka Karin. Semuanya secepat itu?

                Ka Karin adalah seorang yang kuanggap pantas menuntunku hingga aku sukses nanti. Namun dia pergi. Meski hatiku tak mudah berganti. Seperti ikhlasnya kuning senja pada hitam larut malam. Semua mengiringi jenazahnya. Aku tau, ka Karin pun ikut serta mengiri jasadnya sendiri. Itulah yang paling menyiksa, ketika raga nya sudah terbujur kaku. Namun, senyumnya masih terpatri disini. Pucat pasi. Perlahan, paras cantiknya ditimbun tanah. Semuanya serasa mimpi. Rasanya baru kemarin aku melihatnya tertawa bersamaku. Dimeja makan. Dia adalah satu-satunya orang yang menghidupkan suasana dengan candaannya. Kunamakan apa keluarga ini? Jika hanya ada aku dan ibu didalamnya.

                Aku melihat ibu yang menangis memeluk papan bertuliskan nama anaknya itu. Anak yang ia lahirkan dari rahimnya tepat 21 tahun silam. Itulah rencana-Nya. Tidak pernah disangka dan tidak pernah diduga.

                Sekeliling rumahku terlihat hening. Bahkan memang hening. Ayah? Ka Karin? Satu persatu meninggalkan aku dan ibu. Hanya kami.

                                                                                ******

                Aku berjalan dilorong-lorong sekolah. Sepi sekali. Anak itu! Adik Riana! Menyayup-sayupkan tangannya, seolah dia ingin aku mengikutinya. Anak kecil itu berlari kearah laboratorium, dan semua darah berceceran disana. Aku masuk kedalamnya. Namun sayangnya, pintu itu langsung terkunci. Entah siapa yang menguncinya. Pintu tertutup. Lampu sekejap mati dan sekejap hidup. Disana, dipojok sana, seorang wanita menangis dengan memeluk lututnya. Aku tidak tau siapa dia, dia hanya membelakangiku. Menangis, merintih, dan menjerit. Tentu aku dekati, aku pegang pundaknya. Dia menghadapku. Seorang gadis dengan berwajah hancur, memiringkan kepalanya mendekatiku. Namun naas, tiba-tiba lampu mati. Aku tidak dapat melihatnya. Yang kutau, aku hanya mendengar tawa anak-anak kecil di laboratorium ini. Perlahan aku mundurkan kakiku melangkah kebelakang, dan..

                Aku menabrak sesuatu!

Sesuatu yang berbau amis. Bertubuh tinggi berada dibelakangku. Aku menghadapkan tubuhku itu kearah sesuatu itu. Aku raba-raba. Benda itu bergerak! Meminta-minta tolong kepadaku. Untung saja lampu menyala!

                 Pak Araka!

Tubuhnya terbelek, sampai-sampai separuh organ-organ tubuhnya terlihat. Aku menjerit menutupi apa yang terlihat dengan mataku. Darah yang tadi sempat aku raba, sekarang telah ternoda diwajahku. Mengapa secepat itu? Hanya sekitar 15 detik lampu itu mati.

                Pembunuh itu telah terlatih. Telah terbiasa.

Siapa?

                “Feyandra.. saya tau kamu mampu! Ungkaplah!” ucap pak Araka sambil merintih.

“Tapi siapa? Saya ga tau!” aku masih menutup kuping.

Portal masalalu!

                Itu satu-satunya harapanku. Aku memejamkan mata. Konsentrasi.

Disana, aku melihat diriku sendiri. Adik nya Riana menggenggam tanganku, dia takut dengan pembunuh itu! Pembunuh itu cepat sekali, masih dengan pisau yang sama. Dia melukai pak Araka yang hendak menyalakan lampu itu. Wajahnya tidak jelas, tapi dikit sedikit aku dapat melihat wajahnya dengan jelas! Dia itu…

                Mengecewakan!!!

Aku kembali dalam kesadaranku. Aku ingin cepat-cepat mengungkap semuanya. Aku sadar. Tapi mengapa aku terpisah dengan ragaku? Ragaku masih memejamkan matanya. Lalu mengapa aku disini? Berdiri didepan ragaku sendiri. Semuanya tampak gelap, hanya ada ragaku ditempat yang serba hitam ini.

                “Ka.. kau harus menolongku!” panggil suara anak kecil dari belakangku. Aku tidak melihat siapapun disini. Namun bergilir suara meminta tolong itu selalu saja bersahut-sahutan. Aku hanya melihat satu jendela. Yang didalamnya nampak satu wanita duduk dikursi goyang. Demi sebuah kebenaran, aku harus berani memasukinya.

                                                                                ******

“Maaf, boleh aku bertanya?” ucapku pelan-pelan.

                Menganggut.

“Dunia apa ini? Semuanya gelap.”

                Dia mengadahkan wajahnya. Betapa mengerikannya. Mungkin sampai saat ini aku tak akan bisa melupakannya. Lehernya terbelah hampir copot, darah mengalir dari pelupuk matanya, bibirnya pun tidak ada. Hanya tinggal rahang-rahang yang berbaris. Suara karat dari gerakkan kursi goyang itu menambah magis suasana.

                “Dimensi biru.”

Aku mengernyitkan dahiku. Rasanya Ayah pernah menceritakan itu.

Flashback

“Kenapa si semuanya ini aneh, menakutkan.” Ucapku.

                “Itu belum seberapa. Masih banyak yang lebih menakutkan. Contohnya ketika kamu menjelajahi mimpi.” Ucap ayah menatapku. Tatapan yang selalu membuatku nyaman ketika didekatnya.

“Itu asikkan yah? Bisa menjelajahi mimpi siapa saja semaaaaaaaau kita.” Ucapku dan berputar dihadapan ayah.

                “Duduk nak. Bukan itu yang ayah maksud. Tidak semenarik itu, ketika kamu menjelajahi mimpi. Kamu akan masuk kedalam dimensi biru, mungkin itu cukup menakutkan.”

“Dimensi biru itu apa yah?”

                “Dimensi ketika kamu berjalan dilantai yang tidak sebenarnya ada, dibawah atap yang sebenarnya hanya bayangan, dan disana, kamu melihat jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaanmu. Disana juga, kamu dapat bertemu ayah dan leluhurmu. Juga teman batinmu, dalam ruangan kematian. Semuanya memang gelap, namun disana ada tujuh lampion biru. Dan lampion biru itu adalah perwujudan teman-teman batinmu. ”

                Ayah pernah mengatakan itu. Lalu mengapa aku sampai bisa menjelajahi mimpi? Padahal aku tidak berniat untuk tidur. Mungkin ini salah satu kesempatanku untuk mengungkap semuanya. Dimana wanita itu? Dia menghilang? Sekarang tempat itu menjadi tempat yang amat gelap. Memang, aku melihat 7 lampion disana, namun dibawahnya masing-masing terdapat pintu berwarna biru juga.

                Aku memulai dari pintu yang paling kanan. Aku masuki itu. Nampak seorang gadis memain-mainkan bonekanya. Kaki nya terpisah. Buntung. Dia orang yang pernah aku temui! Adiknya Riana. Dia memberiku sepucuk kertas. Aku ambil dan kubuka itu.

Aku ingin hidup kembali. Namun bagaimana bisa? Jika sejuta tanda tanya pun masih bergelayutan dipikiranmu. Aku ingin mati saja. Namun bagaimana bisa? Jika aku masih terkurung ditempat ini. Bebaskan.

Aku menarik anak itu. Namun dia mendorongku hingga aku terlempar keluar dari ruangan itu. Lampion itupun padam. Aku memasuki pintu kedua. Rambutnya tergerai panjang menutupi sebelah matanya. Riana! Juru kunci dari semua masalah ini.

                “Riana! Kenapa kamu buat masalah ini! Hidupku menjadi tidak tenang karna kamu!” ucapku.

“Akupun begitu. Matiku tidak tenang karna mu.”

                “Aku?!”

“KARNA KAMU YANG TIDAK MAU MEMBALASKAN DENDAMKU!!!!” ucapnya. Tubuhnya terbang mencekikku. Ternyata ini nyata! Tubuhku terpentok dinding, nafasku sesak. Ternyata ini sifat Riana yang asli. Pendendam.

                “Riana! Aku akan menolongmu untuk mengungkap… uhuk.. mengungkap semuanya. Bukan untuk membalas dendammu! Uhuk.. hentikan Riana.. hentikan!!!” ucapku, tanganku mengarah kedepan. Tiba-tiba Riana terdorong dan terlempar tubuhnya terdorong jauh hingga menempel di dinding. Aku baru ingat. Ternyata telekinesisku dapat berfungsi saat ini. Dengan cepat aku keluar dari ruangan itu. Lampionnya padam.

Kedua ruangan itu. Mengerikan.

Kenapa perasaanku berbeda, saat memegang gagang pintu yang hendak aku buka. Bintang gemintang terlintas sekejap. Meninggalkan kabut-kabut biru pada kisah yang haru. Entah apa itu. Rasanya setiap tarikan nafasku terasa lega, dan setiap kedipan mata ini mengeluarkan airmata.

                Siapa yang ada didalam?
Krekk!!! Kubuka pintu itu. Ayah. Seorang laki-laki yang selama ini aku nanti kehadirannya. Agar kembali mendekap, dalam malam yang semakit pekat. Rindu. Dua ruangan yang kulewati sebelumnya terasa sangat mengerikan dan gelap. Namun ayah, dengan sosok yang teramat sempurna dengan berpakaian serba putih menatapku hangat. Tatapan seperti biasanya. Kami bertatapan, namun airmataku yang beku telah mencair karena tatapan hangatnya. Mencair dan mengalir begitu saja.

“Ayah.” Ucapku singkat mengulum senyum. Semua seperti biasa, ayah disana. Tersenyum ketika putrinya memanggil sebutan yang membuatnya terhormat itu.

“Kau tau? Semburat cinta itu t’lah hilang. Cinta yang terpancar dari matamu yang berbinar disetiap pagi saat aku hendak sekolah. Senyum yang selalu kau berikan saat aku pulang sekolah. Semuanya seketika dingin. Semua cerita kita menjadi beku, ayah.” Aku menahan airmataku. Yang entah telah hitungan keberapa.

                Ayah diam.

“Kenapa kau menaruh harapan ini? Aku bukan anak yang patut kau banggakan. Aku bukan anak yang pantas kau beri ilmu keturunan ini. Aku hanya ingin ayah hidup lagi. Apa kemampuan ini tak dapat memutar waktu? Aku hanya ingin mempunyai keluarga kecil yang utuh sempurna. Bukan yang hancur berantakan. Bukan karna perpisahan. Tapi karena kematian.” Ucapku. Aku memejamkan mataku. Rasanya nyeri mata ini menahan airmata terus menerus.

                “Ayah hidup. Namun ayah hidup setelah mati. Dan kau tau? Semburat cinta dan senyum itu tidak akan pernah hilang. Karena ayah masih melakukannya. Namun ditempat yang berbeda. Bukan di penjara bernamakan dunia itu. Tapi disini. Di alam baru ayah. Tersenyumlah untuk seluruh alam. Maka alam akan membuatmu tersenyum. Yakinlah. Ada saatnya seorang putri menjadi ratu…” suara ayah tiba-tiba hilang. Aku membuka mataku. Tidak ada lagi sosoknya disana. Lampion itu padam. Setidaknya sekarang aku lebih tenang.

                Kini, hanya tinggal empat bingkai pintu lagi. Aku masuki pintu keempat itu. Sunyi. Tubuh tegap itu berdiri dihadapanku. Lelaki itu…

                Guruku.

Pak Erlan adalah korban pembunuhan beberapa bulan yang lalu. Amat menyakitkan ketika aku melihatnya. Pembunuh itu kuakui hebat. Aku hanya diam menatapnya. Tatapan yang penuh arti itu. “Saya tidak punya pengalaman hebat mengenaimu. Namun tekadmu, meyakinkan semuanya. Bahwa kamu lebih dari sekedar kata hebat. Cepat pergilah dari sini! Sebelum semuanya terlambat!” teriak pak Erlan. Aku hanya tersenyum getir dan keluar dari ruangan itu.

“Terlambat? Jadi, aku harus melanjutkan membuka satu demi satu pintu ini atau kembali?” gumamku. Aku menghentak-hentakkan kakiku dalam waktu yang cukup lama. Dan pada akhirnya. Aku memilih melanjutkan membuka pintu itu. Aku lanjutkan dengan membuka pintu kelima. Temanku! Di pintu kelima itu adalah dia teman sekelasku. Harmton. Tubuhnya tak lagi sempurna, darah bercucuran dari kedua mata, hidung, dan telinganya. Dia menangis.

                “Siapa yang membunuhmu?” tanyaku menahan buliran airmata itu.

“Maaf.. maaf.. maaf” kalimat itu desir-desir mengalir ditelingaku. Tangannya terus saja menggaruk-garuk dinding itu.

Aku tidak menemukan informasi apapun darinya, dan keluar dari ruangan itu. Kumasuki ruangan selanjutnya. Yaitu ruangan yang ke enam.

                Aku menutup mataku. Aku tidak cukup berani melihat apa yang didepanku. Ka Karin. Aku tergugu didepannya, tubuhku mematung. Semua ingatan itu kembali berputar, ketika aku menangis . Bahkan aku ingat ketika berebut mainan bersamanya, ketika aku berselisih, bercanda, terjatuh, bahkan ketika aku sakit wajahnya yang lelap, wajahnya yang tertawa riang bercanda. Saling menggelitiki. Wajahnya yang lelah menunggu bermalam-malaman. Tertidur mengepal tangan adik yang begitu disayanginya. Aku masih tertunduk. Dadaku benar-benar bagai digores seribu sembilu. Semua kenangan ini menyakitkan. Namun mengapa takdir memisahkan kami yang sedang berjuang merangkai tiang yang kokoh untuk ibu. Apa tiang itu bisa berdiri sendiri?

                “Maaf aku meninggalkanmu. Kau tau? Yang paling dekat dengan kita bukan keluarga, teman, ataupun kerabat. Tapi yang paling dekat dengan kita, adalah kematian. Aku telah dilamar oleh malaikat maut, semua cerita tentang kita sudah terkenang menjadi nostalgia. Hiduplah dengan mimpi-mimpi mu. Kamu sudah cukup dewasa.” Tangisku terisak. Satu persatu keluargaku berkumpul di alam baru. Semua cerita tentang keluarga yang indah hanya fana.

                Lampu lampion itu redup, aku menutup pintu ruangan itu. Dan inilah pintu terakhir yang aku buka. Ini akhir dari penjelajahanku di dimensi biru. Namun mengapa dia yang ada didalam!?

                “Fyan…!”

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 2 1 1
 
Remember this story?

lindawulandary
2018-12-30 14:18:07

Sempat penasaran sama jumlah likenya. Eh ... ternyata ceritanya begini. Kerenlah.
Mention


Ayusetiani
2018-12-30 10:26:20

Endingnya maksa banget. Kek cerita belum selesai tapi harus stop. Jadi rancu. Gimana yah. Begitulah.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-14 23:05:23

@EqoDante belum ending.. Wkwk
Mention


EqoDante
2018-12-11 09:48:25

Endingnya terasa maksa banget.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-03 11:20:40

@SusanSwansh iya kak, mungkin emang ada kemiripan kan sama" Diambil dri kisah nyata, cuma bedanya cerita saya ada fiksi nya dikit
Mention


SusanSwansh
2018-10-29 10:41:37

@zufniviandhany24 itu seperti komentar di bawah. Sinetron. Bukan buku. Di Antv.
Mention


Tety
2018-10-29 04:58:56

Aku setuju sama si Susan. Emang mirip sinetron itu.
Mention


Tety
2018-10-29 04:57:41

Itu bukan buku. Itu sinetron. Di Antv.
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:49

@lanacobalt saya gatau cerita ituu;"
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:01

@SusanSwansh sebelum ada buku itu, cerita saya udah rilis duluan;"
Mention


Page 1 of 7 (65 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 545 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

995 727 11
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 7
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

386 305 7
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

296 250 4
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

846 606 10