Aku berdiri mematung didepan pintu ICU memandangi seorang yan terbujur kaku disana, kepalanya dipenuhi perban karena benturan yang ia dapatkan ketika ia hendak ke bandara tadi. Ditambah lagi, dia tidak akan ingat siapapun, termasuk dirinya sendiri.

 

Flashback

 

”Apa anda keluarga atau kerabatnya?” ucap dokter yang keluar dari ruangan tempat Fyan dirawat.

                “Ng.. Saya kerabatnya dokter. Keluarganya ada diluar negeri, jadi kemungkinan datangnya besok atupun lusa. Gimana hasilnya dok?” tanyaku sembari menggigit bibir bawahku, berharap hasilnya baik-baik saja.

“Edric Salafyan, akibat terkena benturan yang sangat keras pada bagian belakang, memori ingatannya… Hilang.”

                “Hah, amnesia? La.. lalu apa bisa kembali lagi?”

“Jika dia dibantu oleh orang-orang terdekatnya, kemungkinan Ya! Ingatannya  dapat kembali.”

Aku menatap lantai-lantai rumah sakit, berharap ini hanya sebuah mimpi dan aku akan tersadar darinya.

 

                                                                                *****

                Aku memandangi kursi disebelahku, rasanya Fyan masih disini, Fyan yang masih bersemangat dengan hari-harinya diatas bangku sekolahan ini. Bukan Fyan yang terkulai lemas diruang ICU sana. Aku keluar kelas untuk sejenak menghilangkan kesedihanku itu. “Fey! Dipanggil tuh sama bu Audy!” ucap Alice yang lewat disebelahku. Aku menghela nafas panjang-panjang, karna mungkin ini awal dimana aku akan dicap buruk karena kemarin.

“Permisi bu..” ucapku dan masuk kekantor guru, semua guru tertata rapih dikursinya masing-masing. Berpakaian seragam guru lengkap, dan duduk manis, itulah orang berpendidikan sebenarnya. Kupandangi satu persatu guru yang formasi mejanya membentuk segiempat itu, semua tampak memiliki aura yang baik, tidak heran mereka menjadi guguhan dan tiruan disekolah. Tapi, ada satu hal yang aneh, seorang guru yang duduk dekat loker itu, auranya berpancar keras, memaksa masuk dikornea mata. Kakiku sontak mundur kebelakang hingga menabrak guru lain yang hendak lewat, mungkin ia guru baru atau aku yang baru lihat. Jika aku mendeskripsikan dirinya dalam sepotong kata, mungkin aku akan menulis ‘aneh’. Itu yang tiba-tiba terlintas dalam benakku. “Hey! Kamu dengerin ibu ga sih?!” bentak bu Audy, membuat aku tertegun. “I..iya bu. Maaf bu.” Ucapku pelan. Bu Audy menoleh kemana arah mataku melihat, dan sepertinya ia tau bahwa aku melihat guru itu.

“Ngapain kamu liat-liat pak Araka?” tanya bu Audy. ”Oh, jadi namanya pak Araka.” Gumamku.

”Feyandra!” tegas bu Audy, sekali lagi aku tertegun karna hentakannya.

                “I…Iya bu. Maaf.”

“Maaf.. maaf.. maaf.” Ucap bu Audy dengan nada mengejek. Aku tersenyum menyeringai.

“Heh! Fokus sama ibu dong, emangnya ada apasih sama pak Araka? Gitu banget lihatnya.” Ucap bu Audy mengibas-kibaskan tangannya didepan wajahku.

                “Ga apa-apa kok bu. Baru pernah lihat aja.” Jawabku tersenyum simpul. ”ibu ga akan pernah bisa lihat apa yang saya lihat bu.” Gumamku.

 

Ibu Audy menjelaskan ini-itu tentang kejadian kemarin. Ternyata kelompokku mendapat nilai yang tertinggi, aku dan Alice akan dilombakan Lomba Pidato tingkat SMA. Padahal tugas itu bukan murni dikerjakan bersama, melainkan hanya Fyan, seorang laki-laki yang sedang terbaring lemas ditempat tidur pasien saat ini. Aku mengangguk-angguk setuju dengan semua perkataan bu Audy.

“Minggu depan ya Fey..” ucap bu Audy. Sekali lagi aku hanya menjawabnya dengan anggukan.

“Ohya Fey, kamu.. Jangan terlalu dekat dengan pak Araka ya.” Ucap bu Audy dengan nada berbisik. Aku mengernyitkan dahi, sebenarnya ada apa?

                “Maaf bu, memangnya kenapa?” tanyaku berlutut dihadapan bu Audy, berharap pak Araka tidak mendengarnya.

“Ya kamu akan tau nanti, dia guru yang dijauhi disekolah ini. Sifat tidak perdulinya itu terkesan sombong! Dan juga…” ucap bu Audy terhenti, aku menjadi makin penasaran dengan pak Araka.

                “Dan juga, kenapa bu?”

“Tidak bisa jadi tiruan! Salah satunya sering datang telat, ibu ga mau kamu jadi mencontoh dia. Guru yang tidak disiplin. Ibu fikir, kamu juga ga akan cocok kalau bicara dengannya, lihat aja semua guru disini, tidak ada yang cocok sama kehadirannya. Mungkin karena punya pengaruh negatif.” Aku berdiri dari keadaan berlutut itu. sekali lagi aku melihat pak Araka yang sedang memainkan smartphone nya. Tidak seperti guru lain yang berbincang dengan teman se-profesinya. Tapi pancaran aura itu? Mengapa berwarna cerah? Apa benar semua guru tidak cocok dengan kehadirannya?

                Aku menaruh buku-buku bu Audy dilokernya, lokernya tepat dibelakang pak Araka. Satu persatu mataku melihat nama-nama diloker itu untuk mencari nama Audy Adzalia, nah! Ini dia yang kucari, loker bu Audy, ternyata terletak dibagian bawah. Kutaruh satu demi satu buku-buku itu. Tiba-tiba bagian belakang telinga kananku terasa panas, aku menutupnya dengan tangan kananku dan segera bangkit. Mataku terbelalak ketika mendapati pak Araka yang berdiri dihadapanku, mungkin dia tidak melihatku karena dia seperti tengah sibuk mencari sesuatu diloker miliknya. Mungkin yang membuatku lebih kaget adalah makhluk yang berdiri dibelakangnya. Aku menelan ludah, berharap makhluk itu tidak peka bahwa aku dapat melihatnya. Tubuh tinggi bak raksasa berwarna hitam legam, bibirnya berlipat-lipat dan tidak ada senyuman, juga mata hitam kemerah-merahan. Tunggu! Mata? Nafasku makin tidak beraturan ketika menyadari ternyata matanya sekarang menatapku tajam. Bukan, bukan mata pak Araka. Tapi mata teman batinnya. Ya, mungkin orang lain merasa tidak cocok akan kehadiran pak Araka karena teman batinnya. Karena hakikat teman batin adalah melindungi tuannya. Siapapun yang berfikiran negatif mengenai tuannya, akan ia jauhi dengan cara apapun. Mungkin itulah caranya.

                                                                                *****

                Aku merebahkan tubuhku ditempat tidur. Dari jendela kamar, saat menatap rembulan diatas sana, saat menyimak bintang-gemintang tumpah, aku berfikir bagaimana bisa orang-orang berpendidikan seperti guru itu memanipulatif semuanya. Pencitraan. Mereka berbicara seakan-akan diri merekalah paling suci tanpa dosa, andai posisiku bertukar tempat dengan bu Audy. Masih mampukah bibir manisnya itu berkata pedas seperti tadi?

Semua argumentasinya mengenai pak Araka, salah besar.

Tidak ada setitik aura negatif pada pak Araka, walau sesekali memang terlintas.

Semua tampak begitu aneh, setiap hari aku melihat makhluk-makhluk yang bahkan lebih besar daripada teman batin pak Araka, tapi untuk pertama kalinya aku takut. Pikiranku terus saja berputar-putar. Hingga entah sejak kapan, aku sudah lelap tertidur. Yang aku ingat hanya mimpiku. Mimpi dimana teman batin pak Araka menghampiriku, ia mengatakan ini itu mengenai pak Araka. Namun aku tidak mendengar begitu jelas, karena rasa takut itu lebih besar daripada rasa penasaranku.

                Pagi berikutnya, dimana matahari merekah hebat, menunjukkan keagungan-Nya. Seperti hari-hari biasanya, pemandangan pagar tua. Seperti janjiku kepada bu Audy, hari ini aku dan Alice hanya fokus kepada lomba kami. Latihan di ruang guru. Menarik, bagaimana keaadaanku akan bertemunya kembali. Pak Araka dan teman batinnya.

“Permisi bu.” Ucap Alice pelan, saat masuk keruang guru. Dan semua guru selalu berjajar rapih ditempatnya masing-masing.

                “Oh ya ya, silahkan masuk-masuk!” jawab bu Audy. “Tunggu sebentar ya.” Lanjut bu Audy yang terlihat sedang menelpon seseorang. Aku dan Alice duduk dikursi yang disiapkan. Belum, belum sempat duduk. “Kamu! Siapa namanya?” tanya pak Araka. Aku menelan ludah apalagi saat melihat makhluk yang selalu berdiri dibelakangnya. Teman batinnya.

“F.. Feyandra pak.” Menelan ludah untuk kedua kalinya. Disusul keringat dingin.

                “Oh ya, kemari!” mataku bertatapan dengan Alice. Alice menganggut seolah berkata ‘kau akan baik-baik saja’. Aku duduk dikursi sebelahnya. Tepatnya, didepan makhluk itu.

“Oh jadi kamu yang ikut lomba pidato?”  tanyanya. Aku selalu menundukkan wajahku dihadapannya, dan hanya menganggut ketika ia bertanya.

                “Coba baca!” suruhnya. ”Apa harus baca pidatonya sambil nunduk? Bukannya dia terkenal guru killer? Terus kalau nanti dia bilang bu Audy, terus nanti ga jadi ikut lomba gimana?” gumamku dalam hati.

“Coba baca!” ucapnya lagi, aku tertegun dari lamunanku. “I.. Iya pak” jawabku masih menunduk. Aku lirik mataku kesebelah kiri ternyata ‘teman batin’nya tambah dekat. Menghela nafas. Hanya itu yang kulakukan. Aku baca kata demi kata dalam teks itu, rasanya teks itu lebih panjang dari biasanya. Entah kenapa aku merasa ada yang bergelayutan dikaki kiriku. Panas. Aku injak kaki kiri yang sudah terlanjur gemetar. Sepertinya bu Audy benar, energinya terlalu negatif. Bukan pak Araka, tapi temannya. Teman beda alam.

”Akhirnya selesai jugaaaaaa!!” teriakku dalam hati.

                “Bukan gitu bacanya. Kamu itu intonasinya kurang, mimik mukanya juga harus dikondisikan dong. Dan ju…”

“Harus banget dikomen gitu? Lama-lamain tau ga!” gerutuku dalam hati.

                “Coba baca sekali lagi!” ucapnya menegaskan.

”Hah?!5497&%$6)*#$&.” Kacau. Semua bulu kudukku berdiri. Merinding. Dia ga merasa apa yang aku rasakan. Dan dia tidak melihat apa yang aku lihat. “Ehm.. gimana ya pak. Saya mau latihan sama Alice.” Ucapku. Akhirnya dia mengizinkanku. Sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan karena terbebas dari ‘teman batin’nya.

                                                                                ******

                Hari-hari berikutnya aku agak terbiasa karena kehadiran pak Araka, khusunya ‘teman batin’nya. Karena pak Araka mengajar disalah satu klub yang aku ikuti. Mungkin dia sadar aku adalah salah satu murid yang menjauhinya. Bukan, bukan karena dia guru yang menakutkan. Tapi karna dia guru yang membawa makhluk yang menakutkan.

“Kamu kenapa si?” tanyanya. Menunduk.

                “Ga.. Ga apa-apa pak.” Ucapku menyeringai. Mungkin sekarang dia juga menganggapku aneh. Biasa. Ia menyipitkan matanya. Curiga.

                “Pak, ituh..” ucapku pelan. Menelan ludah. Bagaimana tidak, tangannya menyentuh pundakku. Tangan teman batinnya. Berat, panas.

“Apa?”

                “Bapak punya teman batin kan?” ucapku. Cengkraman teman batinnya semakin kuat. Mungkin dia berharap aku cukup diam saja. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak mau hari-hariku selalu diajak berinteraksi olehnya.

“Apa? Kenapa emangnya?” ucapnya, sedikit bingung. Tangan besar itu tiba-tiba melepasnya. Aku tidak mau berbicara banyak. Ditambah lagi makhluk yang sempat bergelantungan dikaki ku. Anak kecil. Bukan manusia.

                “Ngga pak. Ga jadi.” Ucapku dan segera pergi dari ruangan itu.

                Setidaknya aku akan lebih tenang karena tuannya telah tau, bahwa teman tidak sungguhannya itu. Mengganggu. Walaupun tidak sepenuhnya. Aku bergegas menjenguk Fyan yang terbaring dirumah sakitnya. Lorong-lorong rumah sakit sudah aku pijaki dengan sepatu kets ini. Tapi apa ini? Darah! Aku menginjak darah didepan pintu tempat Fyan dirawat. Aku buka pintu itu dengan keras, ternyata memang darah itu bersumber dari ruangan ini. Seorang berpakaian dokter, dengan ditutupi masker wajahnya. Memegang sebilah pisau. Fyan tidak sedang dioperasi kan? Kalaupun dioperasi mana mungkin memakai pisau seperti itu.

“Siapa kamu?!” teriakku. Tanganku perlahan memencet tombol darurat yang berarti bahaya. Sirine pun berbunyi diruang keamanan, semua penjaga bergegas keruangan Fyan. Namun orang itu sudah pergi lewat bingkai jendela besar kamar rumah sakit. Aku tidak dapat menghentikannya, bisa-bisa aku ikut terluka.

                Dokter melihat Fyan yang sudah berlumuran darah. Tangannya bekas goresan benda tajam, dan bagian perut sebelah kirinya telah tertusuk.

“Pasien kehabisan darah! Golongan AB!”, ”kita kehabisan stok AB dok!”

 

Mereka sibuk bersahut-sahutan.

 

                Sedangkan mulut ini tidak henti-hentinya berdoa, dan portal masalalu ini? Terbuka kembali.

Disana, didalam bayanganku. Orang yang memakai baju serta masker dokter itu. Tatapannya? Aku tau tatapan itu. Mata itu seperti…

 

“Fyan!!!” tiba-tiba suara teriakkan histeris menggema di lorong rumah sakit, memecah lamunanku saat itu. Wanita paruh baya yang berdiri disana. Ibunya. “Dimana anak saya? Dimana?!” ucapnya kepada dokter.

“Kami membutuhkan darah AB untuknya.” Ucap dokter singkat. Orangtua Fyan saling bertatapan.

                “Saya.” ucap seseorang. Sigap mataku menghadap orang itu. Alice.

Ia berjalan menuju ruangan yang dokter arahkan untuk diambil darahnya. Sedangkan aku masih terduduk lesu karena melihat pembunuh itu. Apa dia juga yang membunuh Riana? Tapi..

                Mata itu seperti Riana!

Aku berfikir keras. Bagaimana bisa Riana hidup kembali? Fatamorgana kah?

Satu jam. Dua jam. Dan tiga jam. Akhirnya dokter keluar dari ruangan Fyan. Aku, Alice serta orangtua Fyan langsung berdiri menghampiri dokter. “Adakah keluarga pasien disini?” ucap dokter seraya mengantongi stetoskop nya.

“Kami dok.” Jawab ayah Fyan. Dokter mengajak orangtua Fyan untuk keruangannya. Entah apa yang mereka bicarakan enam mata itu. Alice menghampiriku yang duduk di kursi ruang tunggu. Menepuk bahuku.

“Kau… kau tau siapa pembunuhnya?” tanya Alice.

                “Tidak. Aku hanya melihat matanya, mirip…”

“Siapa?!” tanyanya menghentak.

                “Riana.”

“Mungkin kembarannya.” Aku mengernyitkan alis, apa Riana punya kembaran? Bagaimana aku bisa tau kebenarannya kalau Riana sudah tidak pernah lagi menggentayangiku. Mungkin dia sudah tenang karena setidaknya jasadnya telah terkubur.

                “Riana punya kembaran? Kamu tau ceritanya?!” tanyaku mengintrogasi.

“Kembaran Riana berinisial A.F. Dia, Fyan, dan Riana terikat cinta segitiga mungkin. Dan akhirnya Fyan beralih hati kepada A.F. Riana berontak, segala cara ia lakukan untuk kembali lagi kepada Fyan. Akhirnya Riana berniat membunuh Fyan, namun tanpa sengaja Fyan berontak dan membunuh Riana. Riana mati, dan Fyan dinyatakan tidak bersalah karena sebenarnya itu salah Riana sendiri. Makanya aku ga mau kamu ber-interaksi dengan si iblis Riana itu. Kau tau? Saat itu mereka masih dibawa umur. Namun saat ini, mereka semua sudah berumur 17 tahun dimana semua itu akan terulang kembali.” Ucap Alice. Mengapa tiba-tiba semua pancaran aura Alice menjadi gelap? Apa Alice berbohong? Untuk apa?

                “Ter-ulang kem-bali?” ucapku mengeja.

“Ya, terulang kembali. Karena Fyan telah menyukai kamu. Sifat mereka sama, hah! Namanya juga kembar. “

                “Kamu itu bicara apa si Al? Aku ga ngerti, terulang kembali gimana maksudnya?”

“Riana dan A.F. memiliki sifat yang sama. Dulu Riana ingin membunuh Ryan, karena Ryan menyukai A.F. dan sekarang? Mungkin A.F yang akan membunuh Fyan, karena Fyan menyukaimu.” Semakin gelap aura itu. Aku yakin Alice pasti berbohong, namun ada kebencian didalamnya? Apa hubungan Alice dengan A.F. dan Riana?

                “Ehm.. Al. Kenapa A.F. ingin membunuh Fyan? Kenapa bukan aku?”
“Karena, jika Fyan tidak bisa ia miliki, maka Fyan juga tidak boleh dimiliki oleh siapapun.” Alice seperti tau semuanya.

                “Bukannya umur kita terlalu muda untuk saling membunuh? Dan juga, aku cuma menganggap Fyan sebagai sahabat, apa seusia kita pantas untuk mulai berurusan dengan hati? Oh ya, kenapa kamu bisa tau semuanya?”

“Ah sudahlah Fey, kamu banyak tanya. Aku pulang dulu ya. Daaaah…” ucap Alice dan segera berlalu. Bahkan tidak meninggalkan satu jawaban pun.

                                                                                *****

                Dedaunan terlihat merengkuh pada rantingnya. Satu, dua embun jatuh sebagai saksi dari peristiwa semalam. Namun pagi telah menjelma tergantikan bersama puing-puing aksara. Deraian cahayanya membuang segala derita. Ah tidak, jangan lagi terjerat pada duri kata dan rasa yang dapat membutakan mata. Menjadi pembunuh belia. Nikmati elegi pagi hari ini. Hirup nafas dalam-dalam, tenangkan semuanya. Hembuskan nafas pelan-pelan, lupakan tentang tragedi semalam.

                Derap kaki seakan menjadi lebih tegar. Karena itu semua menjadi pelajaran pada tiap adegannya. Seperti biasanya, berhadapan kembali dengan sebuah pagar tua. Itu sekolahku. Sekolah yang tidak pernah aku harapkan sebelumnya. Kenapa ini seperti teka-teki yang mustahil untuk dipecahkan, dan kenapa aku seperti orang bodoh yang hanya menonton tanpa bertindak.

“Fey, kenapa melamun? Ayo latihan, kita kekantor hari ini.” ucap Alice seraya menepok bahuku. Tatapan Alice kali ini berbeda, dia seperti sedang bahagia. Sangat.

                “Kamu.. lagi bahagia?” tanyaku.

“Ah, nggak kok Fey. Biasa aja. Tapi ya dikit sih.” Ucapnya, kulihat senyuman terkembang dari sudut-sudut bibirnya.

                “Kamu bahagia kenapa? Bukannya teman kita lagi tertimpa musibah di rumah sakit sana. Tapi kenapa kamu bahagia?”

“Fey! Aku tuh ga se lebay kamu! Terlalu mendramatisir keadaan. Lantunkan do’a aja. Ga perlu di bawa perasaan.” Alice benar, harusnya aku tidak ikut terpuruk dalam musibah Fyan. Dan seharusnya waktu itu, aku tidak menaruh curiga kepada Fyan. Karena ternyata pembunuhnya adalah kembaran Riana sendiri. Katanya.

                “Ck! Lagi-lagi bu Audy belum datang. Kita tunggu dikantor ya.” Ucap Alice saat keluar dari kantor. Aku memasuki kantor guru itu. Hawa dingin, namun pundakku bertiup panas. ”Ada dia..” batinku. Aku tau pak Araka ada disini. “Kita tunggu dikelas aja ya Al?” ucapku meminta kepada Alice.

“Sebentar lagi Fey, bu Audy lagi di jalan. Kalau kita ke kelas, yang ada kita ga diizinkan keluar kelas lagi.” Aku menunduk pasrah, apalagi ‘teman batin’ pak Araka itu selalu menatap kearahku. “Tolong sampaikan sesuatu kepada tuanku” samar-samar berbisik di telinga kiriku. Itu pasti ‘dia’. “Maaf aku tidak mau.” Ucapku. Alice melihat kearahku, handphone nya ia taruh dimeja.

“Kamu ga mau Fey? Ga mau ikut lomba atau gimana? Waktu kita tinggal besok!”

                “Hah? Ap.. apa? Bukan itu maksud aku, aku.. aku ga lagi ngomong sama kamuu kok.” ucapku. Alice melirikku sinis, beruntunglah dia beralih kembali kepada handphone nya.

”Tolong, sampaikan… tentang………………………………………………………………………………..” Ia berbicara cukup panjang, yang tidak bisa aku jelaskan dengan sepatah kata saja. Mungkin nanti. Mataku terbelalak mendengar perkataan terakhirnya. “Ga mungkin! Kamu gila!” gumamku. Aku membekap mulutku sendiri, sangat tidak percaya dengan apa yang ia katakan.

“Fey itu dipanggil!” hentak Alice. “A.. apa si Al?” tanyaku seperti orang yang kebingungan.

“Lamun mulu sih daritadi. Pak Araka manggil kamu!” ucap Alice.

                “Oh, iya iya.”

Lagi-lagi aku berhadapan dengan ‘dia’. Bukan pak Araka, tapi pendampingnya. “Kenapa kamu kemarin?” Tepat! Aku sudah tau pak Araka akan menanyakan ini. Apa aku harus beritahu semuanya? Aku hanya takut, cerita ini tersebar dan semua orang menjauhiku.

“Saya.. saya lihat teman batin, pak Araka. Saya.. saya punya mata batin.” Ucapku. Pak Araka menaikkan kedua alisnya. Sepertinya dia sudah menduganya dari kemarin. Mungkin.

“Kamu takut?”

                ”JELAS!” batinku. “Dikit pak.” Ucapku.

“Kamu ga usah takut, dia ga akan ganggu kamu. Soal sixsense kamu itu, saya paham. Karena beberapa orangpun juga begitu ketika bertemu dengan saya, maksudnya orang-orang yang seperti kamu juga. Takut.”

Hening.

“Coba kamu biasakan. Semoga saja dapat kamu kendalikan kemampuan kamu itu. Kalau itu sudah dapat dikendalikan, semoga itu dapat bermanfaat bagi orang lain.” lanjutnya. Mungkin saat itu tekadku tergoyah, tekad yang ingin menghilangkan kemampuanku itu. Berubah. Aku seperti orang yang telah lama kehilangan jejak, namun hari ini kepingan jejak itu aku temukan. Aku juga harus meyakinkan ayah, bahwa aku menepati janji. Menerima semua anugerah ini.

                Juntaian kata itu menjadi inspirasi tak terkendali. Dia menjaga rahasiaku, dia selalu memberi solusi ketika jejak itu hilang lagi. Entah kapan, yang pasti aku mulai menganggapnya sebagai kakak.

“Sebenarnya saya iri kepada kamu, anugerah saya tidak sempurna seperti kamu. Tapi, anugerah saya akhirnya bermakna, hanya untuk mendukungmu. Sementara kamu? Cukup kuat untuk mendukung banyak orang. Tapi ya, saya bersyukur akhirnya saya menyadari anugerah saya berguna untuk orang lain. Berarti saya bukan Cuma pria aneh, dengan hal-hal yang aneh.” Sebuah kata yang aku ingat darinya. Ya, dia punya kemampuan. Namun, itu hanya indra ke-tiga. Siang kulminasi, membakar semangat dengan ketam. Tak henti-hentinya, mengharapkan nanti yang tak menentu.

                He is my new spiritual teacher.

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 1 0 1 0 1
 
Save story

zufniviandhany24
2019-05-05 18:28:21

Ending nya ada bagian yang dipotong ya.. Jadi jangan kecewa, karna sengaja biar tdk di copas. Bisa lihat full nya di wattpad
Mention


lindawulandary
2018-12-30 14:18:07

Sempat penasaran sama jumlah likenya. Eh ... ternyata ceritanya begini. Kerenlah.
Mention


Ayusetiani
2018-12-30 10:26:20

Endingnya maksa banget. Kek cerita belum selesai tapi harus stop. Jadi rancu. Gimana yah. Begitulah.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-14 23:05:23

@EqoDante belum ending.. Wkwk
Mention


EqoDante
2018-12-11 09:48:25

Endingnya terasa maksa banget.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-03 11:20:40

@SusanSwansh iya kak, mungkin emang ada kemiripan kan sama" Diambil dri kisah nyata, cuma bedanya cerita saya ada fiksi nya dikit
Mention


SusanSwansh
2018-10-29 10:41:37

@zufniviandhany24 itu seperti komentar di bawah. Sinetron. Bukan buku. Di Antv.
Mention


Tety
2018-10-29 04:58:56

Aku setuju sama si Susan. Emang mirip sinetron itu.
Mention


Tety
2018-10-29 04:57:41

Itu bukan buku. Itu sinetron. Di Antv.
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:49

@lanacobalt saya gatau cerita ituu;"
Mention


Page 1 of 7 (66 Comments)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

482 376 8
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 701 8
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

387 322 6
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

373 282 6
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

983 694 13
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 815 14