”Feyandra!” Fyan memanggil-manggilku dari luar, aku hanya membekap berharap mulutku tidak mengeluarkan suara, namun telekinesis ku berfungsi dengan sendirinya sehingga pintu gudang terbuka. Fyan melihatku tajam, dua bilah pisau masih dipegangnya, semakin lama ia semakin mendekatiku.

“Jadi kamu sudah tau semuanya?” ucapnya, Fyan terus saja berjalan mendekatiku.

                “Fy.. Fyan, apa kamu yang membunuh Riana? Kenapa Fy? Kenapa mayat Riana tidak kamu kebumikan? Kasihan Riana, Fy!”

“Kamu mau tau alasannya? Sini..” panggil Fyan, senyum liciknya semakin mengembang namun aura negatif tidak terlihat dari tubuhnya. Kenapa bisa?
                ”Fy aku mohon jangan Fy, kalau dari awal kamu ingin membunuhku seharusnya kamu ga usah memberi harapan hidup Fy!”

“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Fyan, tubuhku semakin mundur dan terpentok di dinding gudang itu.

                “Fy, bunuh aku dengan hormat! Jangan seperti ini!”

“Aku menyukai darahmu Fey, darahmu beda dari manusia lain. Darahmu seperti Riana. Tapi..” ucapan Fyan tehenti, dia menjatuhkan pisau-pisaunya, tiba-tiba wajahnya kembali teduh, airmatanya kembali berlinang. Sejuta deraian tanya bergelantungan diotakku, ada apa dengan psikopat yang satu ini?

                Aku terhenyak saat mendapati Fyan yang tiba-tiba memelukku “tapi aku tidak bisa membunuhmu Fey! Aku tidak bisa!!!Aku.. aku suka sama kamu!” tubuhku membeku, aku melihat jasad Riana itu ”lalu mengapa dia bisa tega membunuh Riana? Bukankah Riana lebih dicintainya daripada aku? Apa ini taktik seorang pembunuh?” gumamku dalam hati. Aku dengan cepat, menghempaskan tubuh Fyan sehingga dia jatuh kelantai, aku mengambil pisau Fyan yang jatuh tadi dan menodongnya kearah Fyan “bohong! Aku tau semuanya, Riana kekasihmu dulu kan?! Lalu kenapa kamu bisa membunuh dia, setelah berjuta kata cinta kamu lontarkan?! Atau jangan-jangan aku juga akan kau bunuh nantinya? Hidupmu terlalu menyedihkan Fyan!” sedari dulu ucapanku tidak pernah menyakiti hati orang lain, namun kali ini aku merasa Fyan tersakiti karena kata-kataku. Fyan mengepal pisau yang aku todong itu, bahkan sangat erat, sehingga telapak tangannya robek dan berdarah.

“F.. Fyan? Kamu mau apa?!”

                “Aku hanya mau menunjukkan kepadamu jika aku kambuh dan tidak ada hewan yang aku bunuh, dan inilah caraku! Melukai diriku sendiri, bukan orang lain!” ucap Fyan, Fyan melepas kepalan tangannya, dan benar saja, semua darah segar mengalir dari telapak tangannya.

“Lalu jika maksudmu kamu ga membunuh Riana, kenapa bisa mayat Riana berada disini?! Kenapa Fy?”

                “Aku… aku terlalu mencintainya Fey, dan a..”

“Gila kamu Fy! Bukan seperti ini yang namanya cinta!” potongku, dadaku terasa sesak dan nafasku mulai tidak beraturan, aku rasa aku benar-benar benci dan jijik kepadanya.

                “Fey dengerin aku! Jasad Riana aku rawat! Aku.. aku selalu ingin melihat mata indahnya, apa aku salah jika tidak menguburnya? Karena paras cantik Riana terlalu mahal untuk sekedar dikebumikan..”

”Cara terbaik menghadapinya, adalah dengan kelembutan. Tolong aku…” suara samar-samar Riana kembali terdengar ditelinga, bagaimana aku bersikap lembut dengan orang berkepala batu ini? Semua cara menghadapi Fyan aku rangkai dikit demi sedikit diotakku, aku rasa aku tau!

”Fyan, dengerin aku ya. Cinta itu tentang hati, bukan paras. Cinta tentang rasa, bukan nafsu. Cinta tentang kerelaan bukan keterpaksaan. Kalau kamu benar-benar cinta sama Riana, izinkan Riana kembali kepada Tuhannya, karena hakikat Riana adalah milik Tuhannya, bukan kamu. Lagipula, apa kamu masih ada rasa dengan Riana, setelah sepatah kata ‘cinta’ kamu beri sama aku?” what the fuck?! Kenapa kata-kata terakhir itu aku keluarkan? Kesannya aku berharap kepada Fyan.

                Ternyata Riana benar! Fyan luluh saat itu juga, dia berlutut dihadapan jasad Riana, “ma..maaf Riana.” Ucap Fyan dan mencium tangan Riana yang membusuk. Aku membuang wajahku karena jijik, aku saja tidak tahan dengan baunya, mungkin ini yang namanya ‘cinta itu buta’.

“F.. Fyan, Fey?” tanya Alice yang ternyata sudah dibalik pintu. Alice melonjak kaget melihat jasad Riana.

                “F.. Fyan.. maaf ya ta.. tadi aku.. aku mau potong buah, ta.. tapi jari aku kepotong, dan karena aku tidak menemukan lap akhirnya aku bersihkan di pintu kaca dapur, dan soal darah di depan kamar itu adalah darahku, ehm.. darah mens. Maaf ya.. ta.. tapi itu Riana sahabatku?” Alice tampak terbata-bata mengatakannya, sepertinya ia sangat kaget. Setidaknya aku dapat menghela napas lega, karena aku hanya mulai trauma ketika melihat darah, semua pikiran negatif selalu bergelimang di otakku.

                “Kalian pulanglah! Aku mau kebumikan Riana dengan warga sekitar. Soal tugas kita, nanti aku yang kerjakan. Dan soal darah-darah itu, nanti aku bersihkan.” Ucap Fyan. Aku mendekati Alice yang didepan pintu itu, namun langkahku terhenti “Fey tunggu!” panggil Fyan. “Soal rasa aku sama kamu, hm.. terimakasih.” Ucapnya. Aku menaikkan satu alisku, apa dia benar-benar menyangka aku suka dengannya? Fyan hari ini tersenyum manis sekali, dan aku balas dengan senyuman yang belum pernah aku tunjukkan padanya. Entahlah senyuman apa itu.

                “Hufth.. aku kira sesuatu terjadi sama kamu Al.” ucapku membuka pembicaraan saat aku dan Alice tengah jalan pulang. Muka Alice datar, dan sepertinya melamun. Aku mengibas-kibaskan tanganku didepan wajahnya “Alice? There something wrong?” ucapku, Alice tiba-tiba kaget, dan seperti tersadar dari lamunannya “eh? I.. iya Fey?” ucapnya terbata-bata, “eh, Fey! Aku.. hm aku duluan yah! Dahhh!” lanjut Alice dan meninggalkan aku sendiri. Aku tau Alice pasti sedang memikiran jasad sahabatnya itu.

                                                                                ******

                “Siapkan tugas kalian dimeja paling depan masing-masing barisan!” teriak bu Audy yang menggema disudut-sudut ruangan. “Fey! Mana si Fyan? Kok dia belum dateng sih, padahal kan tugas kita ada di dia!” ucap Alice, aku hanya menaikkan bahuku karena aku berfikir bahwa Fyan pasti sedang sakit karena kini ia benar-benar kehilangan Riana.

“Feyandra, Alice! Dimana tugas kalian?”

                “Ng.. itu bu, tugas kita ada di Fyan, dan Fyan ga masuk.” Ucap Alice, aku daritadi hanya diam saja, hari ini entah kenapa semua energiku terkuras karena kemarin.

“Alasan! Kalian tau kan konsekuensinya? Hu-Ku-Man! Dasar pemalas! Mau jadi apa kalian nanti? Ap..”

                “Bu! Kami tau konsekuensinya bu, justru itu kami kerjakan! Sekarang ini bukan waktunya untuk berbohong, kami jujur bu! Jika ibu mau menghukum kami, silahkan hukum kami. Tidak perlu ibu melontarkan sejuta kata-kata kotor itu! Itu hanya membuat kami down bu! Aneh, kenapa ibu lebih menghargai nilai daripada kejujuran.” Ucapku memotong pembicaraan bu Alice, aku jadi pusat perhatian sekelas. Ibu alice tampaknya sudah amat sangat marah denganku, namun itulah aku seorang gadis yang rumit adanya. Jika dipuji tak terbang, dimaki pun tak tumbang.

                ”Keluar kalian dari si…!”

“Tunggu bu!” potong seseorang yang berdiri didepan pintu, seorang laki-laki yang berdiri tegap memakai baju bebas dan memegang kopernya. Itu Fyan!

“Maaf bu, mereka benar. Saya yang salah, saya tidak masuk hari ini sehingga tugas mereka tertinggal di saya bu.” Lanjutnya.

                “Fyan, mau kemana kamu?” tanya bu Audy.

“Hm..” Fyan menghela nafas panjang-panjang, “saya.. saya akan pindah kerumah orangtua saya di Filipina bu.” Ucap Fyan. Seketika mataku terbelalak, sejuta tanda tanya membayang-bayangiku, Alice pun begitu. Bel sekolah tiba-tiba memecah susasana yang beku saat itu, semua anak keluar dari ruangan ilmu ini. Kecuali aku dan Alice. Fyan menggeret kopernya menghampiriku, “kamu takutkan sama aku? Seorang pembunuh.” Ucap Fyan dihadapanku, aku masih tak mampu berkata sepatah katapun. Sementara Alice matanya sudah berkaca-kaca. Persahabatan kami putus sampai disini, hanya karena traumaku. “Ini! Ambilah, ini kan yang kau mau?” lanjut Fyan seraya memberi buku yang ada diatas meja tidurnya saat itu. Pori-poriku mulai mengeluarkan peluh-peluh dingin, sementara bibirku masih membeku.

“Disini ada pulpen, kau boleh menulis namamu, namaku, atau nama orang lain pada halaman mana saja yang kau suka.” Lanjut Fyan. Aku merobek kertas dibuku itu dan aku berikan kepada Fyan.

                “Disini juga ada kertas, kau boleh meremuknya dan membakar semua kenangan yang ada, termasuk aku, atau orang lain.” Jawabku.

                “Ingatlah, aku adalah tinta emasmu. Aku pernah bilang kan? Bahwa kau harus jadi kertas suci dan inspirasi, tapi kertas suci itu tak akan pernah tercipta tanpa sebuah tinta.” Ucap Fyan, Alice masih menyaksikan kami dengan bendungan airmatanya.

“Alice? Aku pasti juga akan rindu sama kamu!” ucap Fyan, Alice tertegun mendengar kata-katanya “ingin kusulam layangan kerinduan, menjadi mentari dipagi hari agar ia tau darimana terbit dan hendak pergi kemana.” Jawab Alice, aku baru kali ini mendengar kata-kata yang begitu puitisnya dari seorang gadis tomboy. “Apa kau tau cara menyulam rindu? Seperti menyulam kain, bedanya hanya satu, rindu tak pernah menjadi sarung. Sarung yang menutupi kebusukkan!” ucap Fyan memberi penekanan pada kata-katanya. Mataku bergantian menatap mereka, ada apa dengan mereka? Apa karena Alice yang membenci Fyan karena membunuh Riana? Apa Riana benar-benar dibunuh oleh Fyan? Entahlah, yang pasti sekarang hari-hariku akan berjalan tanpa ‘tinta emas’ itu.

                Rasanya aku terlalu jahat untuk menuduhnya sebagai pembunuh, namun jika memang benar-benar bukan dia, lantas siapa lagi? Ingatanku kembali terulang, portal masalalu itu rasanya terbuka kembali, telekinesis ku pun berfungsi dengan sendirinya. Ini adalah tanda dimana aku tertekan. Semua kemampuanku bersatu padu. Tapi, insting ku sangat buruk mengenai Fyan. Sebenarnya ada apa? Apa yang akan terjadi? Kenapa hanya Precognition yang tidak berfungsi? Aku butuh itu sekarang.

                Lembar demi lembar aku baca semua buku Fyan, namun ada satu halaman yang ia tulis mendeskripsikan diriku.

 

 

  Kubakar gema dijantung waktu,biarkan ia lindap bersama abu. Sebagai sisa yang tak lagi menyatu, seperti hatiku. Kubiarkan tangis menyapa syahdu, dikala mega mulai kelabu.

Kau, membasahi kenangan dengan cerita yang sendu dalam kilasan estafet waktu.

Lalu, haruskah kudiami sunyi?

Hingga tumbuh seluruh duri.

Dada ini sudah sedemikian pati, Feyandra!

Mau kau apakan lagi?

Memberi harapan semu, pada rasa yang meragu?

 

                KRING!!! Ringtone handphone ku menghilangkan kefokusan ku. “Siapa si, malem-malem gini telpon-telpon!” gerutuku. Aku membaca layar telephone, tapi nomor nya tidak dikenal.

“Hallo selamat malam, dengan saudari Feyandra?”

                “Iya benar, ini siapa?”

“Kami menemukan seorang pria dengan identitas Edric Salafyan menjadi korban tabrak lari, semua kontak dihandphone beliau tidak dapat dihubungi, mungkin karena sudah larut malam. Boleh anda datang ke RS. Satya Bakthi?” aku benar-benar mematung saat itu, semua warna-warni lampu tumblr dikamarku berbuah menjadi gelap dimataku.

“Hallo?? Bisa anda kesini? Kondisinya kritis!” ucap penelpon itu. Semua tangis pecah saat itu, aku langsung kerumah sakit yang dituju. Entah mengapa saat itu aku takut kehilangannya. Detik ini, aku baru tersadar bahwa aku memang benar-benar membutuhkannya. Semua memori kembali terulang. Tidak, aku tidak mau kehilangan Fyan sama seperti kehilangan ayah. Aku membencinya sebagai psikopat, namun ada rasa yang terselip disana, rasa yang tidak bisa aku deskripsikan. Entah apa itu. Mungkin rasa hancur, ketika takut kehilangan sahabat.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 1 1 1 2
 
Remember this story?

lindawulandary
2018-12-30 14:18:07

Sempat penasaran sama jumlah likenya. Eh ... ternyata ceritanya begini. Kerenlah.
Mention


Ayusetiani
2018-12-30 10:26:20

Endingnya maksa banget. Kek cerita belum selesai tapi harus stop. Jadi rancu. Gimana yah. Begitulah.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-14 23:05:23

@EqoDante belum ending.. Wkwk
Mention


EqoDante
2018-12-11 09:48:25

Endingnya terasa maksa banget.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-03 11:20:40

@SusanSwansh iya kak, mungkin emang ada kemiripan kan sama" Diambil dri kisah nyata, cuma bedanya cerita saya ada fiksi nya dikit
Mention


SusanSwansh
2018-10-29 10:41:37

@zufniviandhany24 itu seperti komentar di bawah. Sinetron. Bukan buku. Di Antv.
Mention


Tety
2018-10-29 04:58:56

Aku setuju sama si Susan. Emang mirip sinetron itu.
Mention


Tety
2018-10-29 04:57:41

Itu bukan buku. Itu sinetron. Di Antv.
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:49

@lanacobalt saya gatau cerita ituu;"
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:01

@SusanSwansh sebelum ada buku itu, cerita saya udah rilis duluan;"
Mention


Page 1 of 7 (65 Comments)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

310 243 4
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

355 282 10
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 980 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

159 133 1
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

296 250 4
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

500 374 5