Pagi menjelma tergantikan bersama puing-puing aksara, deraian cahayanya membuang segala derita. Di tiap-tiap detiknya pada menit pertama telahku dapatkan nada diantara rona mentari yang menyapa. Hentakan-hentakan pelari pagi bergema disepanjang jalan, rintik-rintik mulai membasahi langit kecil di kesejukan pagi yang menyapa tetes embun pada album hari. Kilatan sesosok yang terlintas dikala hujan berbisik membuat bulu kudukku berdiri sendiri. Aku sengaja duduk dibawah naungan pohon tua yang berada ditaman, karena gerimis hujan hampir membuat bajuku lusuh dan basah.

                Pohon tua itu, menjadi misteri dibalik mitos-mitos yang beredar. Tentang dendam anak kecil yang dikubur hidup-hidup dibawah pohon tua itu hingga menjadi perbincangan warga sekitar karena arwahnya yang terus bergentayangan. Dan aku rasa itu benar. Baru sekitar tiga menit aku duduk dibawah pohon tua itu, kilatan sesosok anak kecil berdiri dihadapanku matanya merah kulitnya hitam legam.

“Mau apa kamu?” ucapku kaget dan segera berdiri dari tempat dudukku.

                “Balas dendam kepadamu.” Ucapnya, aku tau ini bukanlah arwahnya tapi ini adalah sesosok jin yang menyerupai wujudnya saja.

“Bukan aku yang menguburmu!”

                “Aku tidak perduli!” ucapnya meninggikan nada, ia semakin maju kearahku sedangkan aku menjadi mundur menjauhinya. “Fey!” teriak seseorang, ternyata itu Fyan, tubuhku lemas ketakutan kalau saja Fyan tidak datang aku tidak tau apa yang sedang terjadi padaku.

“Hey, libur sekolah gini masih aja sendirian lari paginya.” Ucapnya membuka pembicaraan

                “Aku ga sendiri, aku punya mereka” Fyan mengernyitkan alisnya sesaat.

“Ya ya ya, kamu itu asik ya, dapat berteman dengan mereka, pasti sosoknya dipenuhi darah. Hem, tidak seperti aku, kalau ingin lihat darah saja harus mengorbankan hewan.” Aku tertegun dengan ucapannya, dia berucap seakan-akan tidak berdosa, padahal manusia juga dibunuh olehnya.

“Aku terlalu terobsesi dengan darah, dan jika aku ingin memuaskan nafsuku, aku harus membunuh hewan. Kalau aku jadi kamu, pasti aku bisa lihat darah kapanpun yang aku mau.” Lanjutnya.

                “Kamu salah, aku sangat menyesal mempunyai kemampuan ini. Aku selalu dianggap aneh, kenapa.. kenapa mereka hanya berkata hanya apa yang mereka lihat? Hanya karna mereka belum pernah berada diposisiku bukan berarti mereka benar, kan?.” ucapku menahan airmata yang hampir jatuh.        

“Aku? Aku disebut pembawa kematian dan ayahku dituduh memiliki ilmu spiritual hitam, aku dituduh ini-itu yang tidak pernah aku lakukan, sementara mereka yang berdosa terlihat suci tak bernoda. Apa ini hukum alam? Jika aku bisa mewarisi kemampuan ini, akan aku warisi sama kamu, aku ga mau anakku nanti merasakan kepahitan yang sama yaitu tidak bisa menikmati hidup, dan tidak akan pernah” lanjutku, dan ternyata buliran airmata telah bergelimang dipipiku.

“Fey..” lirih Fyan, Fyan menatapku dalam-dalam, aku benci dengan tatapan ini karena ini adalah ratapan kasihan. Sedangkan aku, tidak butuh belas kasihan siapapun.

“Jika hidup adalah perjalanan, maka nikmatilah dengan kedamaian. Namun, jika hidup adalah deretan nada dan luka, maka ampunilah atma kedukaan. Hidup tak akan pernah berakhir sebelum segala aksara tercipta pada lembar-lembar kertas kehidupan. Nikmatilah dengan bersyukur, karena dengan bersyukur kita dapat menikmati hidup. Hidupmu, harus jadi kertas suci dan inspirasi. Bukan puingan abu.” Ucap Fyan dan melempar senyum khasnya.

                Ternyata aku salah, aku kira dia hanya kasihan kepada hidupku namun dia juga memberi inspirasi yang mungkin itu dapat mengubah pola pikirku. Tapi kenapa dia memberi harapan hidup kepadaku? Sedangkan, mereka yang mempunyai harapan hidup malah dibunuh.

­­”Andai mengungkapkannya semudah menggulung kertas” gumam Fyan, aku dapat mendengar apa yang ia katakan dihatinya, tapi aku tidak mengerti maksudnya, senyuman getir pun tersungging dari sudut bibirnya. Seketika aku takut menatapnya, aku termakan nasihatnya sampai aku lupa taktik seorang pembunuh. Namun detik itu menjadi saksi dimana harapan hidupku hadir kembali. Nasihat Fyan selalu terngiang didalam memori ingatanku, hidupku harus jadi kertas suci dan inspirasi bukan puingan abu. Mungkin ada dua alasan mengapa aku mempunyai semangat hidup hingga kini, yaitu Ibu dan Fyan. Ya, Edric Salafyan, seorang pembunuh yang hanya butuh waktu 30 detik untuk menghadirkan harapan hidupku.

                Siklus kehidupan berganti, dimana aku menjadi lebih semangat berjalan diatas nabastala ini. Entah mengapa, Fyan dan Riana sangat cocok, mereka berdua adalah orang yang aku cari selama ini. Dua orang yang menghadirkan ketenangan tanpa perlu dipinta kehadirannya.

                                                                                ******

                “Pagi.” Sapa Fyan saat aku baru duduk disebelahnya, aku hanya tersenyum paksa untuk menjawabnya. Entah mengapa, rasa benci dan takut ini selalu saja timbul ketika aku berada disampingnya.

“Ma…”

                “Maaf karena akhir-akhir ini kamu menjauhiku?” potong Fyan saat aku hendak bicara.

“Seb..”

                “Sebenarnya kamu tidak bermaksud?” potong Fyan kembali, aku menjadi risih karena perkataan nya yang seolah-olah bisa membaca pikiranku. Atau memang bisa? Entahlah.

“Ada ya…”

                “Ada yang kamu ingin tanyakan kepadaku?” Potong Fyang kembali, aku mengernyitkan alis tidak percaya karena ia memang benar-benar tau apa yang ingin aku katakan.

”Ke..”

                “Kenapa aku tau pikiranmu? Heh, jelaslah aku tau, otakmu transparan.” Ucap Fyan dengan terkikik geli. Aku hanya menggeleng-geleng kepala tidak percaya apa yang ia katakan barusan, sebelum akhirnya bel masuk berbunyi.

“Pagi..” ucap bu Audy ketika memasuki ruang kelas yang riuh, “pagi bu Audy!” jawab anak-anak kembali.

“Hari ini ibu hanya memberi tugas kelompok yang harus kalian kumpulkan besok pagi! Kelompoknya kalian tentuin sendiri ya!”

                Alice yang duduk didepan Fyan menengok kearah belakang “Fy, Fey! Kita sekelompok ya, kerjainnya dirumah Fyan aja.” Ucap Alice. Fyan menaikkan satu alisnya dan menatap Alice dingin “heh? Rumahku? Apa-apaan?!” ucap Fyan dengan nada tinggi. “Ayolah Fy, sekali aja” bujukku, akhirnya Fyan menganggut dengan cepat karena bujukkanku.

                                                                                *****

                “Kalian kekamarku aja, aku mau buat minuman dulu, jangan sentuh apapun!” ucap Fyan ketika aku dan Alice sampai di rumahnya. Aku melihat seisi ruangan kamar klasiknya, namun mataku terpaku pada satu foto dimeja tidurnya. “Bongkarlah semuanya” itu suara samar-samar Riana, dan aku menyadari bahwa foto itu adalah foto Riana, tapi apa maksud Riana? Bongkar semuanya? Apa yang harus aku bongkar? Apa sebuah buku didepan foto itu? Tapi bagaimana aku mengambilnya, sedangkan Fyan melarang untuk menyentuh apapun.

                “Alice, aku mau nanya!” bisikku saat Alice tengah sibuk dengan laptopnya.    

“Nanya apa Fey?”

                “Itu Riana?” tanyaku menunjuk foto diatas meja tidur itu. Alice yang tadi sibuk mengetik, tiba-tiba jarinya berhenti dan beku begitu saja.

“Fey, aku sudah bilang, jangan pernah kamu cari tau siapa Riana. Jangan tanya-tanya tentang dia sama aku!” ucap Alice dengan nada tinggi, aku mengernyitkan alisku, kenapa semua orang seakan-akan benci dengan Riana sebenarnya dosa apa yang Riana lakukan?

“Nih minuman untuk kalian!” Fyan datang memecah suasana yang beku itu. Suasana kamar sangat gelap hingga Fyan tersandung tas yang kutaruh dibawah.

                Prang!!! Gelas yang dibawanya jatuh dan pecah, Alice segera menyalakan lampu dan mengambil tisu untuk kakiku yang terkena pecahan gelasnya. “Sini-sini biar aku aja!” ucap Fyan seraya merebut tisu dari tangan Alice, aku melihat Fyan yang bersimpuh dihadapanku, terkadang aku lihat mata sayupnya terpejam. Aku takut dengan tingkahnya yang mengobati luka ini, aku takut penyakitnya kembali kambuh, yaitu psikopat.

“A.. aku, aku mau kekamar mandi dulu..” ucap Alice dan segera keluar dari kamar, sedangkan Fyan mengepal tisu yang ternoda dengan darah segar itu, dan segera berdiri dihadapanku “permisi sebentar ya.” Ucapnya. Kini aku tinggal sendiri dalam kamar bernuansa klasik itu, aku ingin mencari tau lebih lengkap tentang Fyan dan Alice, namun aku sekarang terjebak dalam misteri yang mati petunjuknya. Tidak ada satupun clue yang tersisa untuk aku bongkar, kecuali buku itu. Haruskah aku mencurinya?

                Sudah hampir 15 menit Alice dan Fyan tidak kembali kekamar ini, akhirnya aku memutuskan untuk mencari mereka. Baru saja gagang pintu aku buka, bercak darah telah menghiasi lantai-lantai itu. Tubuhku seketika lemas tak bertenaga, bibirku gemetar tak karuan aku ingin teriak tapi aku takut, semua airmata itu rasanya belum kering atas pembunuhan pak Erlan, namun siapa lagi yang dibunuh dan siapa pembunuhnya? Apa Fyan membunuh Alice, apakah aku korban selanjutnya?

Aku berlari menuju pintu depan, namun na’as pintunya terkunci dibawah pintu pun ada sebilah pisau yang berbalut darah, dadaku terasa sesak, mungkin esok aku pulang hanya tinggal nama. Aku benci rumah ini. Sekarang hanya tinggal keringat yang lebih banyak dari biasanya, airmata yang terus keluar dari pelupuknya, serta mulut yang tak henti-hentinya berdoa.

                Aku berlari kecil ke pintu belakang yang letaknya berada didapur, semua darah menghiasi pintu itu, pintu yang terbuat dari kaca. Aku menelan ludah, yang ada saat ini dipikiranku hanyalah nasib Alice.

“Fey..” ucap lirih seseorang, dengan sigap aku membalikkan tubuhku, dan ternyata itu adalah Fyan. Ditangannya terdapat dua pisau yang tajam, sangat tajam menurutku. “Kamu, kamu jahat Fy! Kamu beri aku harapan hidup, namun kamu akhiri mereka yang mempunyai harapan hidup! Phsycopath!” teriakku, aku berlari kelantai atas, tubuhku gemetar menaiki anak tangga. “Fey!” teriak Fyan dari lantai bawah. Aku bingung harus berlari kemana lagi, rumah ini sangat mewah, namun tidak ada siapa-siapa yang menghuninya. Kemana lagi aku harus meminta pertolongan?

                Aku masuk kesebuah gudang yang letaknya disamping kamar kosong, ternyata disana berisi bangkai-bangkai hewan yang dibunuh oleh Fyan. Aku jatuh digudang itu, energiku amat terkuras disini. Tubuhku tersandar pada salah satu benda yang tertutup kain putih, baunya busuk menyengat. Aku buka kain penutup itu, dan terlihat seonggok mayat yang sudah terkelupas semua kulitnya. Perlahan aku pinggirkan rambutnya, dan itu Riana. Mayat Riana yang duduk dikursi!

Darahnya telah berubah menjadi hitam, aku menyalakan senter handphone ku dan betapa mengenaskannya Riana, matanya masih melotot sedangkan yang satunya sudah tidak ada. Kakinya sudah membusuk, namun mengapa seragam putih abu-abunya masih bersih tak ternoda? Bahkan seperti baru. Aku memberanikan diri mengusap wajah Riana agar tertutup matanya. Setidaknya biarlah Riana tidak merasakan sakit karena kehilangan satu bola matanya.

               

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
1 1 1 1 0 3
 
Save story

lindawulandary
2018-12-30 14:18:07

Sempat penasaran sama jumlah likenya. Eh ... ternyata ceritanya begini. Kerenlah.
Mention


Ayusetiani
2018-12-30 10:26:20

Endingnya maksa banget. Kek cerita belum selesai tapi harus stop. Jadi rancu. Gimana yah. Begitulah.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-14 23:05:23

@EqoDante belum ending.. Wkwk
Mention


EqoDante
2018-12-11 09:48:25

Endingnya terasa maksa banget.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-03 11:20:40

@SusanSwansh iya kak, mungkin emang ada kemiripan kan sama" Diambil dri kisah nyata, cuma bedanya cerita saya ada fiksi nya dikit
Mention


SusanSwansh
2018-10-29 10:41:37

@zufniviandhany24 itu seperti komentar di bawah. Sinetron. Bukan buku. Di Antv.
Mention


Tety
2018-10-29 04:58:56

Aku setuju sama si Susan. Emang mirip sinetron itu.
Mention


Tety
2018-10-29 04:57:41

Itu bukan buku. Itu sinetron. Di Antv.
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:49

@lanacobalt saya gatau cerita ituu;"
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:01

@SusanSwansh sebelum ada buku itu, cerita saya udah rilis duluan;"
Mention


Page 1 of 7 (65 Comments)

Recommended Stories

Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

547 408 6
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

582 447 7
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

186 149 2
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

345 269 4
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

427 336 7