Aku melewati bisingnya anak-anak didepan mading sekolah. Ya, aku tau itu berita pembunuhan pak Erlan. Namun, mengapa anak-anak kali ini menatapku asing? Semuanya memang berubah, khusunya kepada diriku, aku bingung memagari pikiranku, seakan tidak ada lagi jalan yang dapat aku tempuh. Skak matt. Berhenti sudah aku disini, terjebak dalam dunia yang penuh teka-teki, aku harap seseorang datang membantuku memecahkan permasalahan ini.

“Kemarin, pas kelas sudah sepi aku dengar Feyandra bicara sesuatu sama pak Erlan katanya si ‘hati-hati’ gitu.” Bisik salah satu anak perempuan yang sedang berkumpul bersama genk nya. “Jangan-jangan, dia pembunuhnya?” , “hm, bukan-bukan mungkin dia gadis pembawa kematian!”, “wah bisa jadi tuh!”. Mereka berbisik-bisik membicaranku, namun aku dapat mendengarnya. Apalagi saat aku mindreading mereka satu persatu.

      Aku duduk dikursiku, aku memang melihat wajah Fyan yang berbeda hari ini. panik, dan pucat. Itu yang terlukis diwajahnya. Namun, satu sekolah menuduhku mereka menyebutku ‘gadis pembawa kematian’ . Padahal aku tidak melakukan apapun, semua ini karena Fyan. “Fey..” panggil Fyan lirih. Aku meliriknya jijik, karena semua janjinya bahwa tidak akan membunuh manusia adalah omong kosong.

“Hm..” jawabku singkat, keringat dingin keluar dari pori-pori wajah Fyan. Bibirnya bergetar ingin ingin mengatakan sesuatu, namun tidak jadi karena anak-anak sekelas langsung datang mengolok-olokku.

“Ga nyangka yah, ternyata dikelas kita ada gadis pembawa kematian.” Ucap salah satu teman sekelasku. “Konon katanya, siapa yang berhubungan dengan dia pasti akan segera dilamar sang malaikat maut. Kaya pak Erlan gitu.” Aku menghela napas panjang, mendengarkan mereka yang bersahut-sahutan menyindirku.

      Brakkk!!! Tiba-tiba Alice berdiri dan menggebrak meja, memang dikelas salah satu murid yang disegani adalah Alice, karena dia seorang ketua kelas. “Kalian bisa ga sih diam?!” ucapnya. Anak-anak diam sesaat, namun membantah kembali “Al, kita itu kasihan sama kamu, kenapa sih kamu temannya yang satu pria pecinta darah, yang satu lagi gadis pembawa kematian? Kenapa tidak berteman dengan kita-kita Al?” tanya Harmton, wakil dari jabatan Alice. Alice terdiam sesaat, “ka.. kalian ga berhak ngatur-ngatur!” ucap Alice dengan nada tinggi dan segera pergi. Kini tidak ada Alice,  mungkin lagi-lagi aku akan di-bully karena perbuatan Fyan.

“Hey, gadis pembawa kematian! Lihat apa yang kau lakukan kepada Alice, cih! Jijik aku melihat gadis itu!” ucap Harmton. “Apa? Kenapa aku? Bukankah kalian yang menyakiti hatinya?” tanyaku. Anak-anak langsung riuh, kini mereka bersahut-sahutan kembali mengolok-olokku.

“Mau melawan dia, aku juga takut, takut dilamar malaikat maut. Huuuuuu!”

“Ternyata dia menjadi sok jagoan yah, ada baiknya kita usir saja dia dari sini. Setuju ga kawan-kawan?!”

“Nah setuju tuh! Kalau lama-lama disini dia bisa jadi bala saja!”

“Lagipula kita tidak taukan asal usulnya? Bisa saja ayahnya juga punya seorang spiritual ilmu hitam, makanya berimbas kepada anaknya se…” belum sempat mereka melanjutkan ucapannya, aku langsung berdiri dan anehnya tanganku langsung refleks terbuka kearah depan dan membuang tanganku! Anak-anak melihat takut kearahku, karena setelah aku lihat semua meja telah berantakan bak tertiup angin. Apalagi ini? Apakah ini termasuk dari kemampuan ayah yang diturunkan kepadaku? Mereka semua menatapku dingin, begitu juga dengan Fyan. Aku tak kuasa menahan airmata yang kian membendung, aku lagi-lagi berlari ke kamar mandi yang sunyi itu.

      “Apalagi ayah? Apalagi ini?! Banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang sekarang terjadi, ini masa SMA ku. Masa-masa yang harusnya aku isi dengan kenangan indah mengapa berubah menjadi pahit? Aku hanya ingin menjadi gadis normaaaaaaaaal!” teriakku, aku masa bodoh dengan tempat yang aku pijaki sekarang, aku tidak memikirkan orang-orang yang mendengarku. Karena yang pasti, kamar mandi ini sunyi. “Kau lebih dari normal!” ucap seseorang, dibelakangku. Aku membalikan badan, dan lagi-lagi itu Riana. “Riana? Sejak kapan kau datang?” tanyaku mulai curiga, “tidak penting!” jawabnya acuh tak acuh. “Riana, apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?” tanyaku penuh harap, bibir pecah Riana menyunggingkan senyumnya yang khas. Senyum yang tak dapat aku jelaskan dengan kata-kata.  ”Temui aku ditaman belakang, pulang sekolah nanti.” Ucapnya, ‘kenapa dia selalu datang secara tiba-tiba? Apa dia bukanlah manusia? Tapi, mengapa tubuhnya sempurna seperti manusia? Siapa dia?” begitu banyak tanda tanya dalam benakku, hingga saat aku tersadar dari lamunan, aku kehilangan sosoknya lagi.

                                                      ******

      “Fey, aku duluan ya!” ucap Fyan, aku hanya mengangguk lemas, dari jam pelajaran tadi aku masih memikirkan Fyan yang begitu kejam membunuh pak Erlan. “Fey, ga pulang?” tanya Alice, aku yang tersadar bahwa aku punya janji dengan Riana tiba-tiba saja menjadi semangat, “aku lupa! Aku ada janji sama Riana!” ucapku, membuat mata Alice dan Fyan terbelalak, “Riana?!” pekik mereka bersamaan, Fyan yang tadi sibuk memasukkan buku tiba-tiba berhenti, wajahnya mendung, namun  pikirannya kosong. ”Ternyata dia mempunyai sixsense” ucap Alice dalam hatinya yang dapat aku dengar. Aku melihat sunggingan senyum disudut bibir Alice, dan Fyan menatapnya tajam. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Fyan, Alice, dan Riana saat aku belum berada disekolah ini?

      ”Riana..” ucap Fyan lirih, matanya berkaca-kaca dan senyumannya mencoba menegarkan dirinya sendiri. “Ada apa dengan Riana?” tanyaku, aku merasakan energi tubuh Fyan. Rapuh, sakit hati, benci bersatu padu menjadi satu. Namun siapa Riana? Fyan langsung berjalan cepat menuju keluar dan hilang dibalik pintu. Ya, Fyan sudah pulang. Kini tinggal aku dan Alice, akupun merasakan energi Alice. Energi dan aura negatif keluar dalam tubuh Alice. Saat ini, yang ku ingin cari tau bukanlah siapa Riana namun kini siapa Alice dan Fyan?

”Sebaiknya kamu jangan bertemu dengan Riana, karena nantinya kamu akan menyesal telah bertemu dengannya. Mungkin lebih tepatnya aku.” Ucap Alice, namun kata-kata terakhirnya itu diucapkannya pelan. Aku tidak mengerti dengan mereka berdua. Tapi aku akan tetap menemui Riana, karena dari sanalah kunci jawaban yang selama ini aku cari bisa terkuak.

’Wajahnya menggambarkan orang baik, namun mengapa Alice berkata akan menyesal kalau aku bertemu dengan Riana?” gumamku dalam hati, setiap langkahku dipenuhi lamunan-lamunan. Hingga pada akhirnya, seorang wanita tengah duduk bersama salah satu anak kecil yang waktu itu berlari-lari ditaman belakang sekolah. Aku membekap mulutku dengan tanganku sendiri, “itu Ri.. Riana” ucapku pelan. Riana membangunkan wajahnya yang tadinya tertunduk lesu, ia melihat tajam kepadaku dan menyayupkan tangannya memanggilku. Ini memang berat, karena selama ini, walaupun aku sering melihat makhluk-makhluk halus tapi aku belum pernah dekat sampai sedekat aku dengan anak kecil ini. Banyak sekali pertanyaan yang terus bergelayutan dalam otakku, tanpa dapat menjernihkan pikiranku aku tetap berusaha bersikap tenang.

”Riana, kamu memiliki sixsense?” tanyaku, aku masih berdiri dihadapan Riana yang tengah duduk merangkul anak kecil itu.

      “Tidak. Aku indigo, sama sepertimu.” Ucapnya. Aku sedikit tenang karena saat ini aku memilik teman dengan kemampuan yang sama. “Indigo adalah bawaan lahir seseorang dan tidak dapat dihilangkan, sedangkan sixsense dapat dihilangkan. Indigo lebih istimewa dari sixsense, anggaplah itu sebuah anugerah semua yang kau lihat, yang kau rasa, yang kau ucap, bahkan yang kau bayangkan akan menjadi nyata dalam sesaat. Hidupmu layak diperjuangkan dibumi ini, jangan pernah berpikir untuk menghilangkannya, karena pasti ada yang tersakiti jika kau menghilangkannya.” Ucap Riana, matanya berkaca-kaca menahan airmatanya. Begitu pula ddengan anak kecil itu, tiba-tiba muka tak bersahabat terlukis diwajah mereka.

“Ayahku?” tanyaku kepada Riana.

      “Tidak hanya ayahmu, namun juga kau. Dan teman batinmu.” Ucap Riana. Aku masih bingung dengan semua perkataan Riana. Apa yang diucapkannya bak sebuah rembulan yang redup cahayanya. Samar-samar.

“Apa maksudnya, hidupku layak diperjuangkan? Bagaimana dengan hidupmu sendiri?”

      “Aku tidak hidup.” Jawabnya singkat, mataku terbelalak mendengar ucapannya. Semoga yang terucap hanya sebuah kebohongan. “Apa maksudmu?!” tanyaku dengan nada tinggi. Aku merasa dipermainkan disini, setiap kata-kata yang ia ucapkan seolah-olah misteri yang akan aku jalani.

“Kita berbeda dunia. Aku telah terbunuh disekolah ini, aku juga sepertimu dulu. Namun bedanya, kau dapat mengubah sejarah yang pernah terjadi. Demi sebuah masa depan yang misteri namun pasti.” Aku menangis mendengar perkataan Riana, ternyata aku sedang berinteraksi dengan makhluk berbeda alam.

“Lalu mengapa kau sempurna layaknya manusia biasa?”

      “Karena aku dapat mengubah wujudku, sekarang kau tutup matamu dan bentangkan kedua tanganmu. Nikmatilah energi negatif disini, bersahabatlah dengan alam kami.” Ucap Riana. Aku menurutinya, tiba-tiba pundakku terasa panas aku membuka mataku dan betapa kagetnya aku melihat tubuh Riana yang dipenuhi darah. Seragamnya robek tak beraturan, bahkan ada pisau yang menancap dimatanya namun tertutupi dengan rambut panjangnya. Nafasku tak beraturan, aku melangkahkan kakiku kebelakang menjauhi Riana. Bahkan sekarang bukan hanya Riana dan anak kecil itu, tapi juga ada wanita yang bergelayutan dipohon dengan berbadan ular. Dia siluman. Dan masih banyak lagi sosok-sosok yang lebih menakutkan, dari yang kutemui sebelumnya. Aku sangat takut, aku hampir lari namun Riana mencegahku.

      ”Jangan takut! Kami tidak akan menyakitimu. Kemarilah..” ucap Riana membujukku. Akhirnya aku menuruti perkataannya, langkahku berucap antara setengah yakin dan setengah ragu. “Lalu siapa yang membunuhmu? Dan siapa anak kecil ini?” tanyaku. “Seorang Phsycopath disekolah ini, dan anak kecil ini dia hanya anak tak berdosa yang menjadi korban.” Ucap Riana, suara seraknya sangat melambangkan kesedihan yang amat mendalam, tangisnya pun menjatuhkan airmata dendam. “Aku ingin kau mengungkap semuanya, kau istimewa!” lanjutnya.

                                                      ******

      Interaksi  kami yang begitu lama dan memakan waktu hingga matahari telah tenggelam diufuk barat. Kulayangkan pandang ke kanan-kiri jalan, hanya ada serbuan air yang jatuh kebumi. Tiba-tiba seperti sebuah film terputar dalam pikiranku, bayangan Fyan yang akan menjatuhkan dirinya dari atas jembatan. Dan tiba-tiba suara sayup-sayup Riana terdengar ulang kembali oleh telingaku ”semua yang kau lihat, yang kau rasa, yang kau ucap, bahkan yang kau bayangkan akan menjadi nyata dalam sesaat.” Aku segera berlari menuju tempat yang ada dalam bayanganku tadi. Ternyata benar, laki-laki yang berdiri diujung jembatan itu bukanlah Fyan yang aku kenal sebelumnya. Ia menjadi Fyan yang lebih rapuh, wajahnya seperti menggambarkan garis-garis keputus asaannya. Aku berlari dan menarik tangannya. Emosiku tiba-tiba saja melonjak tak karuan.

      “Kamu gila?! Buat apa kamu bunuh diri Fy?!” tanyaku dengan emosi yang tak dapat aku kendalikan. Matanya menatap kosong jalanan, sorot matanya tidak adalagi harapan hidup. Namun tidak ada kabut hitam yang menyelimutinya, sebab itulah aku yakin bahwa Fyan tidak akan mati hari ini, esok, atau lusa, tapi masih lama lagi.

“Aku hanya ingin bersama Riana, selamanya” ucap Fyan, aku mengangkat satu alisku. Aku tidak tau apa hubungan Fyan dengan Riana dimasa lalunya.

      “Kenapa? Riana itu siapa mu?” Fyan tampak menghela nafas dalam-dalam setelah mendengar pertanyaanku. Namun ia mengalihkan pembicaraannya.

“Terimakasih telah menolongku, tadi emosiku tidak karuan. Tiba-tiba keputusasaanku datang kembali, aku terlalu mencintainya.” Ucap Fyan dan segera pergi meninggalkan aku yang masih berdiri mematung.

”Apa Fyan yang membunuh Riana? Dan apa Riana kekasihnya? Jahat sekali dia.” Gumamku dalam hati.

                                                      *****

      Aku melanjutkan perjalananku kembali dibawah rintiknya hujan. Setelah kuputar ingatanku, ternyata hari ini aku menemukan dua kemampuan baruku. Menggerakan benda tanpa aku menyentuhnya, yaitu telekinesis. Dan melihat kejadian yang akan terjadi, apa namanya? Mungkin aku menamakannya precognition yaitu melihat kejadian sebelum terjadi. Ayah pernah mengatakan dua kemampuan itu kepadaku, dan aku tidak percaya. Namun, kini telah terbukti.

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
1 1 1 1 1 4
 
Remember this story?

lindawulandary
2018-12-30 14:18:07

Sempat penasaran sama jumlah likenya. Eh ... ternyata ceritanya begini. Kerenlah.
Mention


Ayusetiani
2018-12-30 10:26:20

Endingnya maksa banget. Kek cerita belum selesai tapi harus stop. Jadi rancu. Gimana yah. Begitulah.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-14 23:05:23

@EqoDante belum ending.. Wkwk
Mention


EqoDante
2018-12-11 09:48:25

Endingnya terasa maksa banget.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-03 11:20:40

@SusanSwansh iya kak, mungkin emang ada kemiripan kan sama" Diambil dri kisah nyata, cuma bedanya cerita saya ada fiksi nya dikit
Mention


SusanSwansh
2018-10-29 10:41:37

@zufniviandhany24 itu seperti komentar di bawah. Sinetron. Bukan buku. Di Antv.
Mention


Tety
2018-10-29 04:58:56

Aku setuju sama si Susan. Emang mirip sinetron itu.
Mention


Tety
2018-10-29 04:57:41

Itu bukan buku. Itu sinetron. Di Antv.
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:49

@lanacobalt saya gatau cerita ituu;"
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:01

@SusanSwansh sebelum ada buku itu, cerita saya udah rilis duluan;"
Mention


Page 1 of 7 (65 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

541 419 5
Kubikel

Kubikel

By rickqman

995 727 11
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

159 133 1
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

310 243 4
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

355 282 10
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

316 241 4