“Fyan…!”

Mata sayu dan senyum itu masih sama terlukis diwajahnya. Pucat wajah itu. Mengapa dia berada diruang kematian. Bukankah dia belum mati?

“Feyandra!!!” teriakkan seseorang mengeluarkanku dari dimensi biru itu. Terbangun. Aku mengedip-kedipkan mataku, karena semuanya masih nampak buram. Aku melihat sekelilingku, dimana pak Araka tengah dikerumuni orang-orang. Ia dibawah kerumah sakit untuk diotopsi. Sedangkan aku? Masih bingung, ketika beberapa orang menanyakan ini itu kepadaku. Aku seperti orang bodoh, yang hanya celingak-celinguk ketika ditanya. Namun setidaknya aku bisa bernapas lega, ketika melihat orang yang berdiri disampingku itu. Tak lain Fyan.

                “Pak, untuk sementara biarkan dia menenangkan diri dulu.” Ucap Fyan. Kemudian laboratorium itu sepi kembali, hanya ada aku dan Fyan kali ini. “Aku memang tidak ingat apa-apa, namun aku tidak bodoh. Aku kan yang membunuh pak Araka? Karena.. karena aku.. aku punya penyakit psikopat dan setelah aku membunuh, aku lupa apa yang terjadi kan?” tanya Fyan setengah menegas. Aku menggigit bibir bawahku. “Tidak perlu kamu bicara aku tau jawabannya.” Ucap Fyan singkat dan pergi dengan wajah yang kusut.

                Sedangkan diri ini masih mematung. Aku masih terpaku atas apa yang aku lihat tadi, sebuah pengkhianatan besar apabila aku mengungkap betapa bejatnya temanku. Namun, jika aku tidak mengungkap pembunuhan itu, bukankah namanya bersekongkol? Terkadang, Tuhan itu terlalu baik kepada seorang penjahat. Mengapa dia yang berdosa terlihat suci tak bernoda?

                Aku tidak menyadari, ternyata malam telah berada pada sosok angin yang meninggalkan hujan dibawah terangnya bulan purnama. Hujan berbulan. “Aku dapat melihat portal masalalu, apa aku dapat mengulang masalalu?” ujarku, dan segera bangkit dari laboratorium itu setelah sekian lama duduk.

                “Tidak!” ucap seseorang dibelakangku. Suara yang amat tidak asing lagi. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya. Dan benar saja! Dia pembunuh berdarah dingin itu..

                Sahabatku sendiri..

                “Alice!” ujarku, dadaku berdegup lebih kencang dari biasanya saat melihat pisau-pisau yang ia pegang. “Kamu ingin membunuhku? Sahabatmu sendiri?!” ujarku ternganga.

“Sahabat? Sahabatku adalah pisau-pisau ini, tajamnya, goresannya, kilapnya, dan setiap tetes darah yang keluar dari hasil pisau ini tidak pernah mengkhianati aku. TIDAK SEPERTI KAMU YANG MENGKHIANATI TEMANMU SENDIRI! Ups, maksudku SAHABAT.” Ucap Alice dengan meninggi-ninggikan suaranya.

                “Apa? Apa maksudmu?” tanyaku.

“Kau taukan sebab aku membunuh Riana dan adiknya itu apa? Karena aku.. menyukai Fyan! Dan aku ingin membunuh Fyan! Tapi.. tapi aku membunuh sahabatku sendiri.” Ucap Alice seraya menangis. Apa dia sudah gila? Tatapannya kosong, emosinya melunjak, tapi dia menangis. “Fyan, seharusnya dia sudah mati! Adik dari Riana mengetahui semuanya, dan dia ingin membongkarnya, lalu.. lalu aku bunuh juga adik dari sahabatku sendiri.. he he, tapi tidak masalah aku senang melakukan itu!” lanjutnya. Aku mengerutkan alisku, dia memang benar-benar sudah gila! Perubahan ekspresinya begitu cepat. Dari menangis, sekarang tertawa. Apa dia phsycopath???

                “Lalu? Kau mau apa! Membunuhku? Silahkan!” tegasku. Hari ini aku terlalu berani menawarkan nyawaku padanya. Sampai-sampai aku lupa, bahwa aku sekarang adalah satu-satunya yang harus menghidupi ibu.

“Cih..!!! Tanganku terlalu kotor untuk membunuhmu langsung. Tapi, aku ingin menyiksamu terlebih dahulu. Sama seperti aku menyiksa, pak Erlan, Harmton, kakakmu, dan pak Araka.” Ucapnya tertawa lepas.

                “Dasar wanita iblis!” aku menahan genangan airmata itu, saat aku tau ternyata kakakku sendiri dibunuh olehnya. Aku.. adalah satu-satunya orang yang harus mengungkap ini, ketika semuanya berdiri membisu. Aku coba membuka pintu, tapi siapa yang mengunci pintu ini?

“Setelah kau ingin serahkan nyawamu, sekarang kau mencoba kabur? Hah! Dasar pecundang! Cobalah untuk kabur, aku tidak peduli! Yang pasti, pisau kesayanganku ini akan menancap ditubuh indahmu, dan Fyan hanya akan memandangku.” Ucapnya. Lagi-lagi ia menyeringai jahat, menampakkan barisan gigi-giginya.

                Brakkk!!! Pintu itu terbuka dengan sangat kerasnya, membuat tubuhku terhempas hingga kelantai yang masih berceceran darah tragedi tadi pagi itu. Tanganku terpukul keras oleh kayu pintu. Fyan? Dia datang kesini?

“Jahat kamu, Alice!” ujar Fyan. Wajah Alice berubah drastis menjadi panik, matanya tidak berani menatap mata tajam Fyan itu. “Aku ternyata memang bodoh! Aku frustasi dengan diriku sendiri! Aku kira, akulah orang dibalik pembunuhan ini! Walaupun aku tak ingat siapa diriku, tapi aku ingat siapa dokter yang coba membunuhku itu! kamu..” lanjut Fyan. Mataku bergantian menatap mereka, sedangkan Alice menjatuhkan pisau-pisaunya.

                “Ma.. maaf.” Ucap suara samar-samar Alice dengan wajah penuh penyesalan, namun ekspresi itu berubah kembali, “Tidak! Aku tidak akan meminta maaf kepada kalian! Hahaha, beruntunglah kalian berkumpul disini, jadi kisah cinta kalian akan kandas dalam kematian.”

Fyan menaikkan satu alisnya. Aku yang masih duduk dilantai itu, merasakan urat-urat tanganku yang rasanya hampir mau copot. Tapi urat-urat tangan itu seperti memberontak saat Fyan menarik paksa tanganku. Ternyata tanpa kusadari Fyan menarik tanganku karena pisau Alice hampir menancap pada bagian bahuku. Fyan membawaku kesebuah perpustakaan. Disana, dibalik rak-rak buku Fyan membentakku untuk diam, ya, Alice masuk dengan kasarnya, mendobrak pintu untuk memaksa masuk. Untunglah perpustakaan itu amat luas dan berlantai 3, jadi Alice akan sulit untuk menemui kami.

                “Apa kau ingat semuanya?” Tanyaku kepada Fyan.

“Tidak. Ta..”

                “Fyan awas!” hentakku seraya menarik tubuhnya, ketika Alice berada pada ujung rak yang kami tempati. Alice menjatuhi tinta yang berada pada atas rak tersebut. Tapi Alice, tidak melihat kami.

“Tinta..” Ucap Fyan melihat tinta itu.

                Aku mengerutkan alis.

“Kau harus jadi kertas suci dan inspirasi, bukan puingan abu.. Tapi, kertas suci  itu tak akan tercipta tanpa adanya sebuah tinta..” Ucap Fyan, dengan memejamkan matanya.

Aku sontak kaget mendengar ucapannya. Ucapan yang ia katakan sebelum tragedi kecelakaan itu.

“Aku…. tinta emasmu mu kan?” Tanya Fyan menatapku tajam.

                Aku membekap mulut haru, ternyata ingatannya t’lah kembali.

“Kita harus lawan Alice! Aku ingat semuanya, Alice yang membunuh Riana, Alice yang membunuh kakakmu, Alice yang membunuh Harmton, dan Alice juga yang membunuh banyak orang sehingga aku yang disalahkan sebagai laki-laki psikopat, dan kau.. Wanita pembawa kematian.” Ujar Fyan dengan semangatnya yang mulai membara.

                “Aku tau, tapi gimana caranya? Alice itu sudah lama terlatih menjadi pembunuh berdarah dingin.” Ucapku.

“Sixsense..” ucap Fyan

                “Sixsense? Apa yang harus aku lakukan dengan, dengan…” belum selesai aku berbicara, Fyan langsung menarik telapak tanganku. Tanganku diarahkan pada tumpahan tinta yang berceceran dilantai itu. Entah apa maksudnya…

“Kemampuanmu, tidak akan berguna jadi apa-apa jika hanya kau pendam. Tinta ini akan bisa kau hidupkan. Percaya?” ucap Fyan.

                “Hm, terlalu berbelit-belit kisah kalian!” ucap Alice yang ternyata sudah berdiri dibelakang kami dengan seringai jahatnya itu

. “Fey, lari…” Ucap Fyan dengan suara yang sangat pelan.

                “Lalu, ba..”

“Fey lari!!!” ucap Fyan mendorong Alice, saat itu juga aku lari meninggalkan mereka hanya berdua. Alih-alih bermaksud meminta pertolongan, tapi ternyata gerbang sekolah telah terkunci, bahkan gerbang itu terlalu tinggi untuk aku panjat. Hari ini, yang bisa aku gunakan hanya telekinesisku.

”Ayah, maaf aku menggunakan kemampuan ini.” ujarku. Aku arahkan tanganku digembok itu. tenagaku terkuras, kepalaku tiba-tiba saja pusing, dan tubuhku lagi-lagi lemas. Aku tau, kemampuanku belum setinggi ayah. Aku tidak bisa membuka gembok yang terkunci ini, dan yang terlintas dipikiranku adalah menghubungi ibu. Saat hendak aku menghubunginya, naas perempuan iblis itu membanting handphone dari genggaman ku.

“Jangan jadi pecundang, yang hanya mengandalkan orang lain!” tegas Alice. Mulutku terbungkam, saat melihat pisau yang ujungnya sudah berlumuran darah. Mungkinkah itu darah fyan?

                “Alice, kenapa, kenapa kau seperti ini?!” ucapku. “Aku kira kau orang baik. Kau orang yang pertamakali berteman denganku, orang yang selalu ada disampingku ketika susah, dan sekarang? Kebaikanmu palsu..” lanjutku.

“Tidak begitu.” Ucap Alice lirih, diikuti dengan raut wajahnya yang tiba-tiba sedih. “Aku selalu menjauhimu karena aku tidak ingin hal ini terjadi! Tapi kau selalu mendekatiku, apa boleh buat hahahaha.” Ucap Alice dengan tawanya. Dia seperti orang yang sudah gila, kadang tertawa, kadang juga menangis.

                “Aku mendekatimu karena aku tau, sebenarnya kau orang baik!” ucapku menegaskan.

“Ya, aku baik, tapi dulu..” ucap Alice seraya meremas bahuku. Tiba-tiba ketika tangannya menyentuh bahuku, portal masalalu Alice terbuka.

Flashback

Alice kecil berlarian kesana kemari diikuti gelak tawa kedua orangtuanya. Namun suatu ketika, Alice melihat perdebatan diantara kedua orangtua yang begitu ia sayangi. Ia melihat ayah yang menampar ibunya. Bahkan, ibunya meninggal ditangan sang ayah. Didepan mata Alice, semua adegan dan peristiwa itu terjadi. Ayahnya pergi. Alice kecil bersama seekor kucing peliharaannya menghampiri sang ibu yang telah bermandikan darah. diambil darahnya dan Alice usapkan ke wajahnya.

“Bu, darah ini akan menjadi saksi dari kebiadapan lelaki itu. Demi mayat ibu, Alice janji akan membalas semua dendam ibu. Alice, Alice menyukai darah…” ucapnya. Sejak saat itu, ayah yang begitu ia bangga-banggakan pergi entah kemana. Kejiwaan Alice kecil berlanjut hingga dewasa, setiap masalah yang ia hadapi, selalu ia selesaikan dengan pembunuhan.

                Plakkk!!! Seseorang menepis pisau Alice. Lagi-lagi Fyan. “Hentikan bodoh!” ucap Fyan yang mulai marah. Aku lihat perut kiri Fyan berdarah, namun tangannya menutupi darah itu.

“Aku tau semuanya..” ucapku lirih. “Alice, jika kau tau sikap ayahmu adalah sebuah kejahatan maka berperilakulah jadi orang baik, jangan seperti ayahmu.” Lanjutku

                “Apa maksudmu?!” ucap Alice yang mulai terlihat cemas.

“Aku benci dengan orang sepertimu!” ucapku.

                Daaarrrr!!! Tubuh Alice terpental jauh, aku baru sadar bahwa aku mengucapkan kata yang salah. Aku tidak boleh mengucapkan kata BENCI, Karena jika aku mengucapkannya maka teman batinku akan mendorong orang yang kumaksud. Fyan masih berdiri disampingku, masih dengan darahnya yang mengalir. Aku memejamkan mataku. Mengulang kisah hidupku yang akhir-akhir ini tidak aku pahami. Tentang kekuatan yang aneh, orang-orang yang dibunuh secara misteri, aku yang dituduh sebagai wanita pembawa kematian, temanku yang ternyata seorang psikopat, dan Fyan yang selalu menjadi misteri di hidupku.

“Aku mnghadirkanmu, wahai jiwa-jiwa yang tenang, bangunlah!” ucapku. Semua itu aku ucapkan, untuk menghadirkan kembali ruh-ruh yang sudah dibunuh oleh Alice. Aku terpaksa melakukan itu. Semua ruh yang telah Alice bunuh kini menampakkan diri

Previous <<
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

lindawulandary
2018-12-30 14:18:07

Sempat penasaran sama jumlah likenya. Eh ... ternyata ceritanya begini. Kerenlah.
Mention


Ayusetiani
2018-12-30 10:26:20

Endingnya maksa banget. Kek cerita belum selesai tapi harus stop. Jadi rancu. Gimana yah. Begitulah.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-14 23:05:23

@EqoDante belum ending.. Wkwk
Mention


EqoDante
2018-12-11 09:48:25

Endingnya terasa maksa banget.
Mention


zufniviandhany24
2018-12-03 11:20:40

@SusanSwansh iya kak, mungkin emang ada kemiripan kan sama" Diambil dri kisah nyata, cuma bedanya cerita saya ada fiksi nya dikit
Mention


SusanSwansh
2018-10-29 10:41:37

@zufniviandhany24 itu seperti komentar di bawah. Sinetron. Bukan buku. Di Antv.
Mention


Tety
2018-10-29 04:58:56

Aku setuju sama si Susan. Emang mirip sinetron itu.
Mention


Tety
2018-10-29 04:57:41

Itu bukan buku. Itu sinetron. Di Antv.
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:49

@lanacobalt saya gatau cerita ituu;"
Mention


zufniviandhany24
2018-10-23 08:48:01

@SusanSwansh sebelum ada buku itu, cerita saya udah rilis duluan;"
Mention


Page 1 of 7 (65 Comments)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

548 409 6
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

427 336 7
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 616 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

451 351 14
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

900 641 12
Anne

Anne's Tansy

By murphy

570 344 8